Senin , 16 Juli 2018

Jokowi Ngebet Terapkan Sistem Ganjil-Genap

“Kalau kalkulasi sudah rampung, baru saya sosialisasikan. Saya juga enggak alergi kritik. Silakan mau kritik mah,”

Lama tak terdengar, ternyata Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo masih ngebet menerapkan sistem ganjil-genap dalam mengurai kemacetan di DKI Jakarta. Saat ini mantan Walikota Solo ini sedang melakukan kalkulasi secara matang dari segala aspek.

“Saat ini, saya masih melakukan penghitungan sebelum kebijakan ini disosialisasikan, kemudian dilaksanakan. Adapun hal-hal yang dipertimbangkan menjadi perhitungan adalah kesiapan angkutan massal, kalkulasi ekonomi, sistem distribusi logistik, kalkulasi politik, kesiapan perangkat pendukung, dan kalkulasi dari sisi hukum agar tak rentan digugat ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN),” ujarnya kepada wartawan, kemarin.
.
Menurutnya, kalau kalkulasi sudah rampung, baru dirinya akan mensosialisasikan kepada masyarakat.
“Saya juga enggak alergi kritik. Silakan mau kritik mah,” bebernya.
Kata Jokowi, saat ini, pihaknya masih terus berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya. Semua berjalan baik dan menjadi tugas Dinas Perhubungan (dishub) DKI Jakarta.
“Itu urusan dinas, kalau ada masalah, baru saya masuk. Masih lancar-lancar saja,” tegasnya.
Seperti diketahui, kebijakan pelat nomor ganjil-genap akan diberlakukan mulai pukul 06.00-20.00, setiap hari, kecuali Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional.
Wilayah pemberlakuan peraturan tersebut adalah pada koridor busway dan koridor utama di dalam wilayah yang dibatasi oleh jalan tol lingkar dalam kota DKI Jakarta (jalan-jalan protokol dalam kota).
Adapun peraturan ini berlaku pada mobil pribadi dan selanjutnya menyasar ke sepeda motor. Selain itu, akan ada alternatif pewarnaan di pelat nomor mobil, seperti dicat dan ditempel stiker.
Sementara itu, kalangan DPRD DKI memberikan pertimbangan terhadap rencana penerapan pembatasan kendaraan bermotor melalui sistem nomor pelat mobil atau ganjil-genap.
Wakil Ketua DPRD DKI Inggard Joshua mengatakan, rencana penerapan pembatasan kendaraan bermotor nomor ganjil-genap sudah lama dikaji sejak masa kepemimpinan mantan Gubernur DKI, Sutiyoso. Rencana itu juga sempat mencuat pada kepemimpinan mantan Gubernur DKI Fauzi Bowo, tetapi kembali tak terlaksana.
“Rencana ganjil-genap ini sudah lama dibicarakan bolak-balik, sampai pergantian gubernur dua kali pun itu sudah dimatangkan, tetapi tetap saja tidak jadi dilaksanakan,” kata Inggard.
Bahkan, Inggard menyebutkan, negara-negara maju yang sebelumnya telah menerapkan kebijakan ganjil-genap dapat dikatakan gagal dan tidak ampuh untuk mengatasi kemacetan. Sebut saja Mexico, Athena, Roma, dan Beijing.
“Di negara maju yang sistem transportasinya sudah canggih saja gagal melaksanakannya, kok kita malah mau melaksanakannya. Jangan kita gunakan masalah transportasi ini untuk dijadikan kelinci percobaan,” ungkapnya.
Penerapan peraturan ganjil-genap ini, menurutnya, sangat sulit untuk diterapkan di Jakarta karena faktanya tidak disertai dengan pelayanan transportasi publik dan massal yang ada. (YKO/BCR)

Share

Check Also

Normalisasi Kali Angke Didesak Dilanjutkan

thejak.co – Warga Kali Angke, Jakarta Barat, mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI untuk segera melanjutkan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *