Sabtu , 25 November 2017

Disorot DPRD dan Para UlamaKemayoran Sepi Pengunjung

NONSTOP,SEPI-

Pekan Raya Jakarta yang sepi pengunjung
Pekan Raya Jakarta yang sepi pengunjung
Pekan Raya Jakarta (PRJ), Kemayoran, Jakarta Pusat mulai sepi pengunjung. Bukan hanya isu penarikan saham dari kalangan DPRD DKI yang membuat pengunjung even Jakarta Fair 2014 ini kian menurun. Namun sorotan tajam dari para ulama di DKI juga mempengaruhi animo warga Jakarta untuk mengunjungi event yang digelar PT Jakarta International Expo (JIExpo) tersebut. Apalagi dandanan para SPG yang tampil seronok di PRJ Kemayoran dinilai bisa merusak moral anak-anak yang berujung dengan terjadinya pemekerkosaan.
“Jujur saya jadi takut ke PRJ Kemayoran. Apalagi ulama yang ngomong gara-gara lihat pakaian SPG seronok bisa merusak moral anak-anak,” kata Siti Jubaidah (45) warga Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (16/6).
Dikatakan Jubaidah, sejak dua tahun terakhir dirinya memang sudah tak berniat untuk mengunjungi Jakarta Fair. Selain tak sanggup membeli barang-barang pameran di stand area PRJ, harga tiket masuk Jakarta Fair dianggapnya sangat mahal.
“Belum lagi jajanan di area PRJ dan biaya parkir matoknya kebangetan,” ungkap ibu beranak 4 ini.
Selain Jubaidah, hal senada diungkapkan Iin Maemunah (38) warga Galur, Jakarta Pusat. Menurut dia, diselenggarakannya Pekan Rakyat Jakarta (PRJ) di Monas oleh Pemprov DKI menjadi berkah besar bagi dirinya.
“Syukur alhamdulilah ada PRJ di Monas. Saya tidak pusing lagi kalau anak-anak ngajakin ke PRJ Kemayoran. Saya risih lihat pakaian SPG nya terlalu vulgar amat,” ungkapnya.

Banyaknya sorotan dari kalangan DPRD DKI dan ulama tersebut ternyata berpengaruh besar dengan jumlah pengujung Jakarta Fair. Dari pantauan Nonstop, memasuki hari ke-11 penyelenggaran Jakarta Fair, jumlah pengunjung mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Padahal jika pada Jakarta Fair 2013, seluruh stand di area Jakarta Fair selalu sesak oleh pengunjung.

Menurunnya jumlah pengunjung dirasakan oleh peserta pameran. Sejumlah penjaga stand di area PRJ Kemayoran mengaku, isu penarikan saham yang dilontarkan DPRD DKI dan sorotan ulama mengakibatkan turunnya omzet penjualan mereka.

“Jelas sangat drop jika dibandingkan dengan tahun lalu. Bahkan turunnya jumlah pengunjung sangat drastis, mencapai 30-40 persen,” kata Jeffri Sales Manager Nexian saat ditemui, kemarin malam.
Kondisi tersebut kata dia, menyebabkan penjualan brand Nexian selama 10 hari gelaran Jakarta Fair mengalami penurunan sangat drastis. Dibandingkan dengan periode tahun lalu omzet saat turun drastis hingga 50-60 persen.

Jeffri mengatakan, turunnya jumlah pengunjung menyebabkan turunnya nilai penjualan bagi para peserta di area Jakarta Fair lainnya. Namun, dia memahami penyebab sepinya pengunjung tersebut.

“Pertama, mungkin karena sedang musim pemilu. Kedua, daya beli memang sedang turun, dan ketiga, mahalnya tiket yang diberikan panitia Jakarta Fair kepada para pengunjung. Tapi yang paling berpengaruh itu karena sorotan ulama dan DPRD ,” jelasnya.
Adanya event Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang digelar di Monas, kata Jeffri juga sedikit banyak ikut berpengaruh kepada penurunan jumlah pengunjung Jakarta Fair pada tahun ini.

“Di sana kan gratis. Kalau di sini, satu keluarga, harus mengeluarkan banyak uang hanya untuk masuk ke pameran saja,” katanya.

Seperti diketahui, dandanan SPG seksi di PRJ Kemayoran membuat berang ulama Habib Salim Alatas. Ulama yang juga Ketua Front Pembela Islam (FPI) DKI Jakarta yang akrab disapa Habib Selon menilai dandana SPG tersebut bisa merusak moral anak-anak yang mengunjungi PRJ.
Karena itu dia menyarankan pemerintah agar menindak tegas hal tersebut.

“Jadilah warga negara yang baik dan santun, patuh pada pancasila. Pemerintah harus turun tangan. MUI juga harus memberikan Fatwa dan teguran. Kan sudah ada UU Porno aksi dan Pornografi,” ujar habib Selon, kepada Nonstop.

Dikatakannya, yang datang ke PRJ tidak sedikit adalah anak-anak yang berusia belum dewasa. Dia kuatir jika hal dibiarkan bisa menimbulkan terjadinya tindak pemerkosaan anak usia dini.

“Kalau anak-anak kita dididik kaya gitu, jangan kaget, jika nanti ada pemerkosaan lagi. Akibat mereka melihat SPG yang membuka aurat,” tandasnya. (RBN)

Share

Check Also

Wow, Pejabat DPE Bisa Tersangka Ramai-ramai

thejak.co – Skandal proyek penerangan jalan umum (PJU) di Dinas Perindustrian dan Energi (DPE) DKI ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *