Rabu , 18 Oktober 2017

Aktivis Muda Serukan Masyarakat Pilih Pemimpin yang Satu Aqidah

Aktivis muda, Hardjuno Wiwoho (kiri) dan penyanyi balada, Bona Paputungan (kanan).
Aktivis muda, Hardjuno Wiwoho (kiri) dan penyanyi balada, Bona Paputungan (kanan).

thejak.co – Para aktivis muda ikut menyuarakan memilih pemimpin yang satu aqidah. Salah satunya adalah Sekretaris Jenderal Gerakan Hidupkan Masyarakat Sejahtera (Sekjen HMS), Hardjuno Wiwoho.
Ia menyerukan pada masyarakat agar memilih pemimpin yang seaqidah. Seruan ini sudah ia ungkapkan menjelang Pemilukada Serentak 2017 yang digelar Rabu (15/02/2017).
Pada Pemilukada putaran ke-2 yang berlangsung 19 April mendatang, Hardjuno tetap meminta masyarakat memilih pemimpin yang satu aqidah. Termasuk, untuk Pemilukada Jakarta 2017.
Pada Pemilukada Jakarta 2017, dipastikan dua pasang calon bertarung di putaran 2. Yakni, pasangan nomor urut 2 Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dan pasangan nomor urut 3: Anies Baswedan-Salahudin Sandiaga Uno.
“Tidak ada tawar-menawar bagi seorang muslim untuk tidak patuh dan taat terhadap perintah Allah SWT yang memerintahkan memilih pemimpin sesama muslim,” tandas Hardjuno, kepada wartawan, di Jakarta, kemarin.
Menurut pandangannya bahwa hal tersebut sudah menjadi harga mati bagi seorang muslim. “Sebagai seorang muslim, bagi saya memilih pemimpin yang seaqidah, sudah harga mati,” tukas dia seraya menambahkan untuk pilihan itu tidak ada tawar-menawar lagi.
Ia menegaskan lagi berikut. “Kapasitas saya di sini memang bukanlah sebagai ulama. Namun dalam sepengetahuan saya, jika ada orang muslim yang dengan segala argumentasinya tetap memilih pemimpin yang non-muslim, maka jelas melanggar perintah Allah SWT seperti yang termaktub pada surat Al Maidah 51, maka wajib baginya untuk syahadat lagi,” pungkas Hardjuno lagi.
Memilih seorang pemimpin dalam konteks Pemilukada adalah hak politik setiap orang dan hal tersebut sangat lumrah dalam demokrasi. Namun, menurut Hardjuno, pada sisi lain sebagai umat Islam wajib patuh terhadap perintah agama.
“Hal itu kan sudah jelas dalam Al Qur’an, jika kita patuh terhadap perintah Allah SWT, maka ganjarannya mendapatkan surga. Tapi, jika kita ingkar terhadap perintah-NYA, maka nyata pula ganjarannya yaitu dosa dan neraka” paparnya.
Sementara itu, musisi yang dikenal sebagai pencipta lagu dan penyanyi balada, Bona Paputungan, juga mengutarakan pendapat senada. Ia meminta agar para elit tidak menambah keruh suasana.
Pelantun tembang hits “Andai Aku Gayus” tersebut mengatakan bahwa soal memilih pemimpin muslim bagi umat Islam itu bukan hanya sekedar hak semata-mata. Melainkan, sebagai satu kewajiban.
“Memilih pemimpin muslim bagi orang Islam itu adalah kewajiban. Jadi, bukan bicara hak lagi. Jika bicara hak, setiap orang bisa saja memilih pemimpin semaunya. Namun, apabila mau ikut perintah Allah SWT, ya harus dong memilih pemimpin yang seaqidah,” ucap pria kelahiran Gorontalo tersebut.
Pada bagian lain, Bona juga berharap agar kisruh antara para negarawan yang kini mewarnai Pemilukada DKI Jakarta, hendaknya bisa sedikit diredam. Karena, tambah dia lagi, hal tersebut dapat merugikan masyarakat.
“Bahkan untuk para negarawan, sebaiknya hentikan dulu pertikaiannya. Belum selesai soal rumah mantan Presiden RI ke-6 SBY yang didemo, kini sudah muncul lagi soal curhatan mantan ketua KPK yang baru saja mendapat grasi. Akibatnya terjadi debat kusir di tengah-tengah masyarakat,” .DED

Share

Check Also

Ketua Komisi I DPR : TNI dan Kemenhan Wajib Bersedia Diaudit BPK

thejak.co – Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Abdul Kharis Almasyhari mengatakan bahwa pihaknya ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *