Sabtu , 5 Agustus 2017

Duh, Pengacara dan Prajurit TNI AU “Dibegal” Kelompok Debt Collector

Direktur Eksekutif Indonesia Ranmor Watch (IRW), H. Mulfi As Nashru "dikeroyok" sekelompok debt collector.
Direktur Eksekutif Indonesia Ranmor Watch (IRW), H. Mulfi As Nashru “dikeroyok” sekelompok debt collector.

thejak.co –  Aksi premanisme yang dilakukan kelompok penagih hutang atau debt collector kembali terjadi di ibukota. Korbannya bukan hanya masyarakat biasa. Melainkan, masyarakat yang memiliki profesi kelas atas seperti pengacara, pimpinan LSM. Bahkan, oknum TNI dan polisi ikut menjadi korban premanisme kelompok debt collector.

Seorang pengacara bernama David Aruan, S.H., M. H. mengaku menjadi korban “perampasan/pembegalan” gerombolan debt collector. Mobilnya “dirampas/dibegal” di tengah jalan oleh kelompok debt collector, tapi gagal.

Karena, ada petugas kepolisian dari kesatuan brimob berpakaian non-dinas yang menolongnya. “Gerombolan debt collector itu berlagak jagoan dengan mengendari 3 mobil mereka menghadang kendaraan saya yang di dalamnya ada keluarga saya. Peristiwa ini terjadi pada hari Kamis pekan lalu sekitar pukul 17.00 WIB,” ujar David.

Kemarin, kepada TheJak, saat mengadukan kasus ini ke Indonesia Ranmor Watch (IRW), LSM yang mengamati persoalan kejahatan kendaraan bermotor, David berkata, ketika itu, dari Tol Bekasi ia dikejar kelompok debt collector. “Terjadi kejar-kejaran sampai depan Polsek Cempaka Putih, Jakarta Pusat,” ia bercerita.

David pun sempat mengarahkan kendaraanya ke polsek tertedat guna meminta perlindungan. Tetapi, belum sampai ke polsek, sudah terjadi bentrokan antara korban dan para pelaku, yakni tepat di depan Gedung Taspen.

“Saya tidak sempat sampai ke polsek karena sudah dipalang, dihadang dan di serempet mereka. Mobil saya kaca depanya dipecahin. Mereka mau merampas kunci mobil saya, tapi enggak berhasil,” papar David yang saat itu istrinya berteriak “rampok” ketika dikeroyok para pelaku.

Pengacara di ibukota ini tertolong oleh polisi brimob yang kebetulan ada di sekitar lokasi. “Ada brimob yang kebetulan melintas dan mendengar teriakan ‘rampok’ yang diucapkan istri saya,” imbuhnya.

Akhirnya, korban ditolong oleh brimob yang bernama Arkim yang bertugas di Kelapa Dua, Depok dan mengawal pengacara sampai ke rumah keluarganya. Istri korban trauma dan ketakutan.

Namun, korban sempat mencatat salah satu mobil yang dikendarai debt collector sadis tersebut. Mobil pelaku bernopol B 1243 YKR, menurut korban dan jenis Toyota Rush hitam, di belakang ada stiker PWI Kab. Karawang.

Saat itu, David bersama istrinya dari Bekasi hendak ke tempat saudaranya di Mangga Besar, Jakbar. Tetapi, di tengah jalan tiba-tiba dikejar para pelaku dengan mobil yang melaju kencang dan zigzag.

Direktur Eksekutif IRW, H. Mulfi As Nashru yang menerima aduan dari David berucap, aksi premanisme debt collector ini bukan yang pertama dan sudah sering terjadi. “Dua bulan lalu seorang anggota polisi yang berpakaian preman juga dihadang debt collector. Waktu mau kembali ke rumahnya tiba-tiba disamperin mobil berpenumpang tegap besar, menanyakan surat-surat mobil dan tanya velg dibeli di mana,” terang Mulfi.

Akan tetapi, karena anggota polisi berpangkat kompol itu sempat membelokkan mobilnya ke Polsek Kebayoran Baru, akhirnya sekelompok orang yang sepertinya diduga kuat debt collector itu langsung tancap gas. Berdasarkan pemantauan IRW, akhir-akhir ini debt collector bertindak anarkis serta melakukan kekerasan terhadap debitur.

“Pihak debt collector berusaha menarik kendaraan tanpa memberi kesempatan demi uang dan tidak mengindahkan hak-hak kepemilikan kendaraan oleh debitur. Padahal, debitur kan sudah membayar uang muka dan angsuran dan mereka juga berlandaskan Undang-undang Fidusia,” cetusnya.

Walaupun debitur lalai dengan kewajibannya membyar angsuran, kata Mulfi, seharusnya tidak di lakukan teror seperti ini. “Ini, kan sama saja tindakan premanisme yang anarkis. Kami mengharapkan pihak kepolisian agar kembali menindak debt collector yang berlaku seperti preman. Dulu masyarakat sangat aman karena polisi pernah memberantas premanisme yang berhubungan dengan debt collector. Tapi, sekarang, atau akhir-akhir ini banyak masyarakat mengalami kekerasan lagi dari debt collector,” tegasnya.

Tragisnya, Mulfi sendiri juga sempat mengalami atau menjadi korban pengeroyokan para debt collector. “Saya baru-baru ini dapat pinjaman kendaraan dari rekan. Mobil itu oleh pemiliknya terlambat bayar 2 bulan angsuran. Saya dikeroyok 8 orang di daerah Mangga Besar,” terang dia.

Oleh karena Mulfi merasa tanggung jawab dengan pemilik mobil dan takut kesalahan terpaksa minta bantuan ke petugas Polsek Metro Taman Sari untuk diamankan dan meminta pemiliknya untuk menyelesaikan kewajibannya. Kata Mulfi, IRW juga mencatat korban kekerasan debt collector lain adalah prajurit TNI yang juga captain penerbang berinisial M dan tinggal di Halim Perdanakusuma, Jaktim.

“Ya saat itu, Pak M ini rekreasi dengan keluarganya ke Bandung dan tiba-tiba beliau mendadak ada panggilan dinas serta terpaksa kendaraan dititip sama keluarganya. Anehnya karna merasa kendaraan ini sudah dibayar dan tidak punya firasat apa-apa, tiba-tiba sekelompok laki-laki mendatangi keluarganya dan meminta paksa kunci dan STNK. Namun tidak dikasih karena beliau mendadak dinas. Kelompok orang tersebut melakukan penderekan paksa yang tidak mengindahkan hak konsumen. Kan ini juga tindakan premanisme,” ungkap Mulfi.

Ia meminta pihak kepolisian mengambil tindakan seperti dahulu yaitu tegas memberantas premanisme dan debt collector liar. “Sehingga, kenyamanan yang dirasakan masyarakat terbukti.
Karena, konsumen mendapatkan fasilitas kredit dari pembiayaan pasti sudah sesuai prosedur yaitu layak dan memenuhi persyaratan yang sesuai dengan aturan dari OJK. Dan konsumen itu juga punya hak kepemilikan sesuai perjanjian kedua belah pihak yang masing-masing harus dijalankan. Cuma, yang buat masalah ini adalah pihak perusahaan menyuruh orang eksternal yang kurang bisa menghadapi konsumen,” tegas Mulfi.

Kepala Satuan Kendaraan Bermotor Polda Metro Jaya (Kasat Ranmor Polda Metro Jaya), AKBP Sting saat dikonfirmasi mengenai maraknya kejahatan premanisme oleh debt collector ini belum memberikan tanggapan. Saat dihubungi berkali-kali, Sting tidak mengangkat teleponnya. Pesan pendek yang dikirim TheJak juga belum dijawab-jawab hingga berita ini diturunkan.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Argo Yuwono menyarankan kepada masyarakat yang menjadi korban tindak kekerasan debt collector agar melaporkan ke pihak kepolisian. Pihaknya memastikan, akan menindaklanjuti laporan tersebut. “Jika terjadi kekerasan, kami akan bertindak tegas,” tandasnya. SOF

Share

Check Also

tora dan mieke

ASMARA TORA & MIEKE AMALIA BERAWAL DARI PERSELINGKUHAN

thejak.co – Perjalanan kisah cinta aktor Tora Sudiro  dan aktris Mieke Amalia tak seperti kisah ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *