Senin , 22 Mei 2017

Mutilasi Anggota Dewan, Brigadir Medi Dihukum Mati

medithejak.co – Terbukti melakukan tindak pidana pembunuhan berencana terhadap anggota DPRD Bandar Lampung, M. Pansor, seorang perwira polisi di Bandar Lampung, Brigadir Polisi Med i Andika  divonis majelis hakim Pengadilan Negeri Tanjung Karang dengan pidana mati . Vonis tersebut menguatkan tuntutan jaksa sebelumnya yang juga menuntut terdakwa hukuman mati.

 

“Menjatuhkan hukuman pidana mati terhadap terdakwa,” ujar hakim ketua Minanoer Rachman saat persidangan di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Senin (17/4). Putusan ini disambut tepuk tangan Umi Kalsum, istri Pansor, dan para kerabatnya. Tidak hanya Umi, Brigadir Medi juga tampak  tepuk tangan saat duduk di kursi pesakitan usai hakim membacakan putusan.

 

Sejumlah netizen mengaku puas dengan keputusan hakim. “Memang sudah sepantasnya terdakwa dihukum mati, nyawa dibayar nyawa,” ujar pemilik akun @muhizaref. “Dua jempol untuk para hakim,” ujar @lukmanhakimt78. “Kali ini keputusan hakim sangat tepat. Jangan pandang bulu,”ujar@dewimaysarah.

 

Dalam pertimbangannya, majelis hakim menilai dari fakta-fakta dan bukti di persidangan, perbuatan Brigadir Medi memenuhi unsur pasal 340 KUHP. Hakim anggota Yus Enidar mengutarakan, Medi terbukti menembak Pansor di dalam mobil Toyota Innova milik Pansor di Jalan Endro Suratmin,
depan lapangan tembak Sukarame. Medi lalu membawa Pansor ke rumahnya di Perumahan Permata Biru. Di rumah tersebut, Medi memotong-motong tubuh Pansor.
Kendati Medi membantah, Yus Enidar mengatakan, ada keterangan saksi  dan bukti ilmiah berupa tracking ponsel yang mendukung bahwa Medi membunuh Pansor. Majelis hakim juga menanggapi pembelaan kuasa hukum Medi yang menyatakan bahwa alat bukti yang disebutkan penuntut umum adalah rekayasa dan manipulatif.
Menurut Yus Enidar, keterangan tersebut tidak didukung dengan bukti-bukti. Hal yang menguatkan lainnya adalah keterangan saksi Heru. Medi sempat beralibi bahwa bertemu dengan Heru pada Jumat, 15 April 2016 sore, di hari ketika Pansor terbunuh. Medi ketika itu menyerahkan STNK motor kepada Heru. Namun faktanya, keterangan Heru, kata Yus Enidar, menyatakan bahwa Heru bertemu Medi tiga hari sebelumnya yaitu di hari Selasa. Majelis hakim juga menyatakan bahwa unsur direncanakan terlebih dahulu terbukti. Ini tergambar saat Medi sudah menghubungi Tarmidi dua hari sebelum Pansor dieksekusi. Medi menghubungi Tarmidi meminta diantar ke Martapura pada Jumat (15/4/2016). Hari Jumat itu adalah hari tewasnya Pansor.
Sementara itu,  hakim anggota Mansur menambahkan, Medi membunuh korban lantaran sakit hati. “Itu dilakukan terdakwa karena sakit hati,” ujar Mansur di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Senin (17/4). Beberapa bulan sebelumnya, Medi juga sempat bertemu dengan anggota Kostrad bernama Ruslin di Jakarta. Ketika itu Medi pura-pura ingin membeli mobil untuk istrinya. Usai membunuh Pansor, Medi sempat menghubungi Ruslin menanyakan bisa tidaknya menerima mobil gadaian. “Terdapat tempo merencanakan terlebih dahulu dan ada niat yang berhubungan langsung untuk membunuh Pansor pada Jumat,” ujar Mansur. Dari keterangan para ahli, menurut Mansur, Medi dimutilasi saat dalam keadaan hidup di rumah Medi di Perumahan Permata Biru. SIR

Check Also

jennifer

Pamer Segepok Uang dan Pistol di Medsos, Artis Ini Banjir Cibiran

thejak.co – Baru-baru ini nama artis kontroversial Jennifer Dunn ramai dibicarakan publik. Bukan karena prestasi ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *