Sabtu , 22 April 2017

REAL COUNT KPU DKI, AHOK KALAH TELAK DARI ANIES

countthejak.co – REAL count Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk putaran kedua Pilgub DKI hampir selesai. Pasangan Cagub/Cawagub DKI Anies Baswedan-Sandiaga Uno memperoleh dukungan suara lebih besar dari pesaingnya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat.

 

Berdasarkan real count Kamis, pukul 15.10 WIB, data yang sudah masuk sudah mencapai 80,35 persen atau 10.472 dari 12.034 Tempat Pemungutan Suara (TPS). Dengan begitu, sebanyak 4.504.705 suara sudah masuk sistem KPU. Anies-Sandi unggul dengan perolehan suara 57,25 persen atau mendapat 2.579.030 suara. Sementara, Ahok-Djarot mendapatkan 42,75 persen atau 1.925.675 suara.

 

Meski sudah 100 persen, data real count ini belum menjadi hasil akhir. KPU akan memberikan pengumuman resmi setelah menyelesaikan secara manual hasil rekapitulasi C1 yang utama. Data real count dihitung berdasarkan salinan C1.

 

Peneliti Media Survei Nasional (Median) Rico Marbun menilai, limpahan suara dari pendukung Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)-Sylviana Murni menjadi faktor penentu kemenangan Anies-Sandi di putaran kedua Pilgub DKI. Dari dukungan tersebut, lanjut Rico, perolehan suara Anies-Sandi di putaran kedua melonjak drastis, sedangkan peraihan Ahok-Djarot sama dengan putaran pertama.

 

Rico menyebutkan, elektabilitas Ahok-Djarot sempat meningkat pasca debat putaran dua kemarin yang digelar KPU. Namun, mendekati hari pencoblosan elektabilitas turun kembali.

 

Dalam survei yang dilakukan Media juga ditemukan bahwa banyak warga yang meragukan netralitas aparat negara. Ada warga yang melihat aparat negara cenderung berpihak pada calon tertentu dengan mengungkit kasus hukum calon lainnya.

 

“Masyarakat heran, kok sepertinya penegak hukum kurang netral. Contohnya di putaran pertama, Ibu Sylvi dilaporkan yang sekarang tak jelas keputusan hukumnya,” kata Rico, Kamis (20/4).

 

Kekalahan Ahok-Djarot juga memunculkan pertanyaan terhadap dukungan PKB dan PPP. Sebelumnya, di putaran pertama Pilgub DKI, kedua partai mendukung pasangan AHY-Sylviana.

 

Rico menilai, dukungan yang diberikan PKB dan PPP pada Ahok-Djarot di putaran kedua membuktikan bahwa elit politik di dua partai tersebut salah membaca konstituen.

 

Sementara itu, peneliti Populi Center Nona Evita menyatakan, seharusnya sebelum memutuskan memberi dukungan kepada siapa, elit partai melakukan konsolidasi terlebih dahulu dengan akar rumputnya.

 

Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno berpendapat, ada beberapa faktor yang menyebabkan kekalahan Ahok-Djarot. Diungkapkannya, sifat Ahok yang tegas dan menolak kongkalingkong yang menyebabkannya kalah di putaran kedua Pilgub DKI 2017 ini.

 

“Birokrat yang saya temui bilang, aduuh kalau Ahok menang lagi, penderita kami main panjang, nggak bisa main anggaran. Begitu juga dengan pengusaha yang saya temui mengatakan, apa sih untungnya Ahok jadi Gubernur,” ucap Hendrawan.

 

Mengenai mesin pendukung partai yang tidak bekerja dengan maksimal, dia tidak ingin menyalahkannya. Menurutnya, masa kampanye yang cukup panjang menciptakan keletihan yang struktural,” tuturnya. Lantas, apakah isu SARA juga berperan terhadap kekalahan Aho? Tidak dipungkungkirinya. SBH

Check Also

Alexis Hotel Jakarta.

Ahok Bakal Kejar Janji Anies-Sandi Menutup Alexis

THE JAK – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengatakan akan menunggu program ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *