Minggu , 17 Desember 2017

Jelang Lebaran, Mie rasa Babi Beredar

kimcithejak.co – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan beberapa produk mie intan asal Korea Selatan mengandung bahan-bahan yang tidak sesuai prosedur. yaitu mengandung unsur hewan babi.

Oleh sebab itu, BPOM berencana akan menarik produk-produk tersebut dari peredaran dan di toko-toko ritel.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Manden menyatakan pihaknya merespon positif langkah BPOM yang akan menarik produk-produk makanan bermasalah tersebut.

“Kami memberi apresiasi sikap BPOM yang menindak produk yang diduga mengandung bahan yang tidak sesuai dengan ketentuan,” ucap Roy, Minggu (18/6).

Roy memastikan, pihaknya memiliki semangat yang sama dengan BPOM, yaitu menghadirkan produk-produk makanan yang sesuai dengan ketentuan, baik dan berkualitas baik pula.

BPOM berencana akan mencabut izin edar empat produk mie instan asal Korea Selatan.

Keempat mie instan dinyatakan mengandung fragmen DNA spesifik babi yaitu, Samyang dengan nama produk U-Dong, Nongshim dengan nama produk Shin Ramyun Black dan mie instan rasa Kimchi, serta Ottogi dengan nama produk Teul Ramen.

Sementara itu, Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Komestika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Lukmanul Hakim mengungkapkan bahwa produk-produk makanan asal Korea ini tidak pernah mengajukan sertifikasi halal ke MUI.

“Yang dirilis BPOM belum berlabel halal dan belum mendaftar ke MUI juga,” tegas Lukmanul.

Kenapa produk-produk makanan dari Korea Selatan itu bisa masuk ke Indonesia, dijelaskannya, karena sudah mendapatkan nomor makanan luar negeri dari BPOM. Dengan begitu, bisa masuk ke Indonesia. “Tapi belum mendaftarkan sertifikasi halal ke MUI ya,” ujarnya.

Menurut Lukmanul, seharusnya produk mie tersebut memberikan label babi jika mengandung fragmen babi. Sedangkan, jika produk itu tidak mengandung fragmen babi, maka dalam kemasannya diberikan label halal dari MUI.

Mengenai mekanisme untuk mendapatkan label halal, Lukmanul menjelaskan, yaitu harus melengkapi dokumen yang ditentukan. Setelah itu, MUI akan melakukan pemeriksaan pabrik ke Korea Selatan. Setelah itu akan diputuskan apakah layak untuk diberikan label halal atau tidak. BHR

Share

Check Also

Dapat Bantuan dari Bank Asia, Bekasi Jadi Kota Pengolahan Limbah Terbaik

  THEJAK – Untuk mewujudkan pengolahan air limbah domestik dan sanitasi yang baik dan sehat, ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *