Selasa , 21 November 2017

Tegas Menolak PT 20 Persen, Nasib PAN di Ujung Tanduk?

Ilustrasi simpatusan Partai Amanat Nasional.
Ilustrasi simpatisan Partai Amanat Nasional.

thejak.co – Meski mengaku mendukung, namun Partai Amanat Nasional (PAN) memilih sikap berseberangan dengan pemerintah dan partai koalisi pendukungnya saat rapat paripurna pengambilan keputusan RUU Pemilu.

PAN tidak sejalan dengan kubu pemerintahan yang memilih paket A yang di dalamnya mencantumkan ambang batas capres atau presidential threshold (PT) 20-25 persen. Kabarnya, hal ini berimbas pada nasib PAN dalam Kabinet Kerja pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Sekretaris Fraksi Partai NasDem di DPR Syarif Abdullah Alkadrie mengatakan, nasib PAN di dalam koalisi ke depan berada di tangan presiden. “Itu hak presiden,” ujar Abdullah, baru-baru ini.

Hanya saja Syarif Abdullah mengatakan, di dalam berkeluarga maupun berteman ada etikanya. Namun dia menilai wajar jika di dalam satu keluarga ada perbedaan. “Tapi, ada etika yang harus kita pegang teguh,” kata dia.

Anggota Komisi V DPR itu mengatakan, ketika masuk ke satu keluarga pasti ada hal yang sesuai dan tidak dengan pemikiran. Tapi, lanjut dia, konsekuensinya ketika berada di dalam satu rumah maka harus menjaga kekompakan.

“Cuma kami berharap teman-teman koalisi bagaimana agar bisa menjaga sesama kita di satu keluarga besar itu,” kata Ketua DPW Partai NasDem Kalbar ini.

Sementara itu, pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago mengatakan Partai Amanat Nasional akan lebih terhormat mundur atau keluar dari Kabinet Kerja pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla, setelah terang-terangan berseberangan dengan partai pendukung pemerintah menyikapi RUU Pemilu, di sidang paripurna Kamis (20/7) hingga Jumat (21/7) dinihari lalu.

“Lebih baik PAN mundur saja dari kabinet, lebih terhormat. Daripada di-bully terus (oleh koalisi pemerintah),” kata Pangi.

Ini disampaikannya setelah melihat sikap partai pimpinan Zulkifli Hasan, di mana seluruh anggota fraksinya di dewan melakukan aksi ‘walk out’. Selain FPAN, Fraksi Gerindra, Demokrat dan PKS juga mengambil langkah yang sama, walkout, menolak pengambilan keputusan RUU Pemilu melalui voting.

Pangi yang juga direktur eksekutif Voxpol Center maklum jika PAN tidak loyal pada koalisi pendukung pemerintah dalam memutuskan RUU Pemilu. “PAN kan tidak ikut berdarah-darah mendukung Jokowi-JK seperti PDIP, PKB, NasDem, Hanura yang loyal mendukung sikap pemerintah,” ucap Pangi.

Sedangkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghormati keputusan sidang paripurna DPR yang telah menyetujui RUU Pemilu menjadi undang-undang. Namun pernyataan mengejutkan, keluar dari mulut Jokowi, panggilan presiden, terkait sikap PAN.

“Saya juga ikuti terus (dinamikanya) dan kami hormati putusan itu. Pemerintah percaya bahwa sistem demokrasi yang berjalan kemarin sudah baik kemarin,” kata Jokowi di Jakarta.

Saat ditanya mengenai sikap PAN yang ikut walk out bersama Gerindra, Demokrat dan PKS, Jokowi memberikan jawaban mengejutkan. “Untuk PAN supaya diketahui bahwa sehari sebelumnya (Ketum-nya Zulkifli Hasan) sudah bertemu dengan saya. Dan sudah menyampaikan kepada saya untuk mendukung,” kata Jokowi.

Meski berada di koalisi pendukung pemerintah, tapi beda sikap, mantan gubernur DKI ini menyatakan hubungan dengan partai yang didirikan Amien Rais tersebut baik-baik saja.

“Tadi kan sudah saya sampaikan, sehari sebelumnya kan kami (Jokowi-Zulkifli) sudah ketemu dan akan solid di partai pendukung pemerintah,” tandas Jokowi. DED

Share

Check Also

Bersaing di Dunia Global, Sekjen MPR Dorong Generasi Muda

thejak.co – Sekretaris Jenderal MPR RI Ma’ruf Cahyono pada Ahad pagi (18/11/2017), meninjau dan menyaksikan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *