Selasa , 22 Agustus 2017

Penunggak Rusun Disuruh Hengkang

rusunthejak.co – Kesabaran Djarot Saiful Hidayat menghadapi para penunggak sewa rumah susun sudah habis. Gubernur DKI Jakarta itu berharap agar penunggak segar hengkang meninggalkan unit rusunawa.

Karena itu, Djarot meminta Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman DKI untuk mendata kembali rusunawa yang banyak tunggakannya.

Khususnya pendataan rusunawa di 23 lokasi karena tunggakannya mencapai Rp 31,7 miliar. Setidaknya, ada 9.522 unit yang menunggak, terdiri atas 6.514 warga relokasi dan 3.008 warga umum.

Djarot pun mempersilakan para penunggak hengka ng dan meninggalkan unit rusunawa tersebut apabila tidak bersedia membayar tagihannya. Pasalnya, kata dia, masih banyak warga DKI Jakarta yang berminat menempati rusunawa. Mereka pun menyatakan sanggup membayar tagihan setiap bulan.

“Itu bayangkan yang antre ingin dapat rusun sudah mencapai hampir 11 ribu orang. Setiap hari saya terima mereka minta rusun dan mereka bersedia membayar iuran. Hidup di Jakarta emang harus kerja keras, tahan banting,” ujar Djarot di Balai Kota Jakarta, Kamis (10/8).

Hal tersebut, kata Djarot, sesuai dengan Instruksi Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Nomor 3354 Tahun 2017 tentang pelaksanaan penertiban warga rusunawa penunggak.

Setelah diberikan surat peringatan kedua, penghuni diminta menyerahkan huniannya secara sukarela kepada pengelola. Bila tidak digubris, akan dilakukan pengosongan secara paksa.

“Ya, kan peraturannya begitu. Kalau memang sengaja dia enggak mau, ya sudah. Banyak yang mau, lho. Enak, kan? Mereka yang antre banyak yang mau. Kami akan segera memerintahkan Dinas Perumahan untuk mengundang mereka yang antre,” kata Djarot.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman DKI Agustino Darmawan menegaskan bagi warga penghuni rusun yang telah menunggak lebih dari tiga bulan akan dilakukan penertiban sesuai dengan Pergub nomor 111 tahun 2014.

“Iya kita tertibkan. Artinya bagi mereka yang menunggak 3 bulan berturut-turut dan sudah diperingatkan baik teguran, segel, surat peringatan, tetapi masih juga menunggak. Sekarang kita upayakan agar dia segera serahkan kuncinya, kosongkan unit rusun itu dan kembalikan ke Pemprov,” tegasnya.

Menurut Agustino terdapat 9.500 penghuni rusun yang tersebar di 23 rusun yang masih menunggak pembayaran dari Januari-Juli 2017. Menurutnya saat ini jumlah tarif sewa rusun Rp 300 ribu.

“Kurang lebih, saat ini hampir mencapai Rp 32 miliar. Karena saya lihat ada indikasi penurunan. Rp 300 ribu itu tarif sewa. Kalau dia enggak mampu, ada bantuan dari bazis. Tapi kan bazis punya keterbatasan,”jelasnya

Sekretaris Daerah DKI Jakarta Saefullah sebelumnya sudah meminta semua penunggak biaya sewa rusnawa mencicil utangnya. Saefullah mengatakan pihaknya tidak akan memberikan pemutihan atau pengampunan tunggakan kepada penghuni rusunawa yang belum melunasi uang sewanya.
“Kemarin saya minta untuk ditagih. Sementara tagih dulu. Dicicil boleh. Itu kan iktikad baik kalau dicicil. Jadi kalau niat tidak bayar, itu tidak baik,” ujar Saefullah pekan lalu.

Saefullah mengatakan biaya sewa rusunawa terbilang cukup terjangkau, sekitar Rp 300-500 ribu. Menurut dia, biaya rusunawa bahkan lebih murah ketimbang konsumsi rokok setiap harinya. Saefullah mengimbau kepada penghuni rusunawa agar uangnya digunakan untuk membayar sewa daripada mengisap rokok setiap hari.

“Kalau dia merokok sebungkus sehari berapa? Bisa habis Rp 22 ribu, lho, rokok (dalam sehari). Kalau sepuluh hari saja sudah Rp 220 ribu. Kalau 30 hari sudah Rp 660 ribu. Sudah lebih (dari biaya sewa). Rokoknya dikurangin coba,” ujar Saefullah. BCR/AZS

Share

Check Also

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta M Taufik

Bikin Susah Rakyat, DPRD DKI Tolak Larangan Motor

  TheJak-DPRD DKI Jakarta menolak keras rencana larangan motor. Sebab, aturan tersebut bukan solusi tapi ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *