Kamis , 10 Agustus 2017

POLISI TANGKAP DALANG PEMBAKARAN MANUSIA HIDUP-HIDUP DI BEKASI

Pelaku pembakaran manusia di Bekasi ditangkap polisi.
Pelaku pembakaran manusia di Bekasi ditangkap polisi.

thejak.co – Seorang pria yang diduga pelaku penyiraman bensin jenis Pertamax ke tubuh Muhammad Al Zahra alias Zoya, tukang service amplifier yang dituduh mencuri, akhirnya ditangkap polisi. Pria berinisial SD (27) tersebut ditangkap di tempat persembunyiannya di wilayah Pandeglang, Banten, Selasa (8/8) malam.

Kapolres Kabupaten Bekasi, Kombes Asep Adi Saputra mnjelaskan, tersangka terpaksa ditembak di bagian kakinya karena berusaha kabur saat akan ditangkap petugas. “Terpaksa SD harus kami tindak tegas dengan menembak kakinya,” tegas Asep, di Mapolda Metro Jaya, Rabu (9/8).

Selain SD menurut Asep, pihaknya telah mengamankan empat pelaku lainnya, yakni SU (40), NA (39), AL (18) dan KR (55). Para pelaku dijerat Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara.

Sebelumnya, screenshoot video sosok pria yang belakangan diketahui bernama SD tengah menyiramkan bensin ke tubuh Zoya menjadi viral di media sosial.

Saat dituangkan bensin ke tubuhnya Zoya masih hidup meski sudah menjadi bulan-bulanan massa. Korban pun akhirnya meninggal dengan cara mengenaskan. Setelah foto penyiram bensin itu viral, polisi dengan cepat memburunya dan berhasil meringkus pelaku di daerah Pandeglang, Banten.

Polisi mengatakan, dalam tragedi pembakaran di Babelan ini SD memiliki peran yang mengerikan. Setidaknya yang bersangkutan memiliki tiga peran besar hingga mengakibatkan korban meregang nyawa.  “Ia pembeli bensin, penyiram bensin dan sekaligus pembakar Zoya,” tegas Asep.

Diketahui, Zoya (30), warga Kampung Jati RT 04/05, Desa Cikarang Kota, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi tewas dibakar massa yang marah.

Zoya dituding telah membawa lari amplifier mushala. Menurut salah seorang pengurus mushala, Rojali, Zoya memang benar-benar mengambil ampli mushala. Zoya kemudian diburu massa dan berhasil ditangkap. Selanjutnya Zoya menjadi bulan-bulanan massa.

Rojali mengaku berupaya mengamankan Zoya tetapi gagal, ia bahkan kena pukul warga. Setelah kondisi dinilai tenang, Rojali kemudian kembali ke mushala dengan membawa kembali ampli yang dibawa Zoya. Malamnya ia kaget karena baru mendengar kabar jika pria yang diduga maling ampli sudah dibakar massa.

Sementara pengakuan berbeda diungkapkan Siti Zubaedah, istri almarhum. Siti  meragukan kalau suaminya melakukan tindak pencurian. Selama ini Zoya dikenal rajin beribadah, ia selalu mengajak anak pertamanya untuk shalat ke masjid dekat rumah.

Menurut Siti, sang suami memang bekerja sebagi tukang service ampli. Biasanya Zoya membeli ampli bekas atau menerima ampli rusak lalu diperbaiki.

Saat kejadan lanjut Siti, suaminya membawa ampli lalu mampir untuk shalat. Nah saat Zoya selesai shalat malah dituding mencuri lalu terlibat kejar-kejaran hingga dihakimi massa yang marah.

Sedangkan pihak kepolisian menegaskan kalau Zoya bukan korban salah sasaran. Berdasarkan penyelidikan polisi sementara, Zoya ditengarai kuat telah mengambil satu unit ampli.

Polisi bahkan sudah menunjukkan ampli yang jadi barang bukti pada peristiwa tersebut. Sementara itu, di akhir napas Zoya terhenti ada tiga kata yang diucapkan. Kata tersebut merujuk pada ucapan yang artinya kalau ia tidak mencuri.

Sementara itu, pada Rabu (9/8) siang kemarin, tim forensik Mabes Polri membongkar kembali makam Zoya di TPU Kedondong, Cikarang Kota.

Jenazah Zoya yang telah beberapa hari dikubur diangkat kembali untuk dilakukan autopsi. Proses autopsi pun digelar di atas pemakaman.

Autopsi dilakukan guna mengetahui penyebab kematian korban. “Tadi itu baru dilakukan pembedahan,” ujar dr Asri dari Tim Foremsik Mabes Polri. Menurut dr Asri, hasil autopsi baru bisa diketahui dalam beberapa hari ke depan.

Asmawi, ayah Zoya tak kuasa menahan air mata melihat makam anaknya dibongkar. Asmawi datang sejak pagi. Lelaki 56 tahun itu didampingi anaknya yang juga adik Zoya, bernama Bambang serta kuasa hukum, Abdul Chalim.

Berkali-kali Asmawi menyeka matanya yang berair. Wajah pesiunan pegawai Kelurahan Sukamahi, Cikarang Pusat, tak kuasa menahan tangis. “Saya sangat pedih,” ujarnya. Dia kecewa mengapa peristiwa ini menimpa anak kesayangannya.

“Kok bisa mereka melakukan begitu, apa dasarnya anak saya dibakar sampai mati? Negara kita negara hukum. Anak saya tidak pernah saya didik maling,” ujarnya. BUD/SIR

 

Share

Check Also

pevita

Pevita Pearce Akan Dinikahi Mike Lewis?

thejak.co – Pertualangan cinta Pevita Pearce sepertinya akan berlabuh.  Pevita terlihat mengenakan pakaian yang sama ...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *