Sabtu , 25 November 2017

DPR Pantau Anjloknya Harga Saham PGAS

thejak.co – Anjloknya harga saham anak perusahaan PGN—PGAS ikut mendapat perhatian DPR. Para wakil rakyat ini terkejut dengan kemungkinan meruginya pemegang saham—termasuk pemerintah akibat terus merosotnya harga saham PGAS.

Wakil Ketua Komisi VII DPR Satya W Yudha mendesak Kementerian BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan Kementerian ESDM (Energi Sumber Daya dan Mineral) untuk segera melakukan evaluasi di tubuh PGN.

“Saya menyoroti, sebaiknya segera dilakukan evaluasi dari Kementerian BUMN dan ESDM. Karena, banyak faktor yang membuat anjloknya harga saham itu,” ucap Satya saat dihubungi wartawan, kemarin.

Politisi Golkar ini pun mendesak pihak PGN agar serius menangani persoalan ini. Karena, PGN adalah salah satu harapan negara untuk mendapatkan pemasukan lebih di kas negara.

“Maka itu, kita meminta kepada pemerintah untuk menyoroti faktor apa yang membuat hal itu terjasi,” ucap Satya.

Padahal kata Satya, bahan baku dan bahan lain yang bisa dijual di PGN sangat banyak. Akan tetapi, dirinya menyayangkan kalau sampai tak bisa semua terjual.

“Intinya lakukan evaluasi. Karena siapapun Presiden Direkturnya kalau punya banyak bahan baku dan mineral tapi tak terjual, pasti akan mengalami penurunan,” tandas Widya.

Hal senada juga diungkapkan oleh anggota Komisi VI DPR, Abdul Wachid. Anggota DPR RI Fraksi Gerindra ini menilai, kalau PGN merugi jelas bisa merugikan negara. Karena cadangan mineral PGN jauh masih panjang, dibandingkan Pertamina. “Lakukan segera evaluasi holding dan investor,” tegas Abdul.

Ia pun menyayangkan, jika benar pihak PGN tak pandai menjaga dan merawat para investor. “PGN harus menggandeng para investor, dan pastinya menguntungkan pihak mereka. Kalah tak bisa menggait, itu harus waspadai,” was-was Abdul.

Oleh sebab itu, ia pun mendesak Kementerian BUMN dan ESDM untuk segera melakukan investigasi di badan PGN. “PGN ini punya harapan yang cerah buat negara. Segera dilakukan evaluasi para direksi PGN.

Kalau perlu rotasi, ya rotasi saja. Lakukan penyegaran. Karena kita perlu orang-orang yang kredible dan berani untuk mengatasi persoalan itu,” tandas Abdul.

Sebelumnya, Kondisi anak perusahaan PGN, PGAS semakin mengkhawatirkan. Publikasi laporan keuangan semester I 2017 PT Perusahaan Gas Negara, meskipun dilakukan pada saat akhir menjelang libur panjang Iedul Adha, nyatanya tidak mampu menahan penurunan saham PGAS yang makin hari semakin mengkhawatirkan para pemegang saham.

Dalam tempo 5 hari para investor saham PGAS telah mengalami kerugian sebesar Rp 380 per sahamnya.  Sayangnya hal ini tidak menarik perhatian  OJK ataupun Kementrian Keuangan. Padahal banyak pemegang saham minoritas sudah kehilangan ratusan atau bahkan miliaran rupiah dana tabungan ataupun dana pensiun mereka.

Ketua Forum Jurnalis Jakarta, Ahmad Yuslizar mengatakan,  penurunan kinerja PGAS ini dimulai sudah sejak lama dimana saat itu PGAS diperdagangkan pada kisaran enam ribuan rupiah per sahamnya. Sejak itu nilai PGAS terus terdilusi hingga menembus Rp. 2000 per saham pada Senin,  4 September 2017.

“Kondisi ini menggelisahkan sebagian besar pemegang saham karena mereka menganggap angka 2000 ini sebagai batas terbawah dan apabila terlewati hampir pasti PGAS menuju Rp. 1000 per saham atau bisa kurang dari itu” kata Yos sapaan akrabnya

Menurut Yos, kinerja PGAS yang terus merosot ini luput dari perhatian berbagai pihak yang semestinya mengawasi. Tidak adanya komentar dari OJK mungkin karena pimpinannya masih baru dan masih perlu banyak belajar.

Padahal kalau kita klik laman OJK disitu jelas tertulis tujuan OJK yang ke 3 adalah mampu melindungi konsumen dan masyarakat. Nyatanya, investor PGAS, baik sebagai konsumen pasar modal maupun masyarakat,  sudah dirugikan. Jadi kapan dan bagaimana mereka akan dilindungi jika OJK saja sudah tidak perduli.

Forum Jurnalis Jakarta juga menyoroti kasus FSRU yang katanya kasusnya sudah masuk ke Kejaksaan,  bagaimana utilisasi FSRU tersebut? Apa sudah termanfaatkan secara optimal, ratusan juta dolar loh investasinya, belum lagi biaya operasi tahunannya yang mencapai lebih dari seratus juta dolar. Info yang kami punya menyatakan FSRU terse but nyaris tidak beroperasi sejak 2014.

Jika memang demikian kondisinya Direksi PGN semestinya  mencontoh manajemen Petronas yang berani  megabil keputusan yang sulit demi melindungi pemegang Sahamnya. Jangan karena takut diperiksa kejaksaan kerugian dari pengoperasian FSRU terus ditutup-tutupi. JAK

Share

Check Also

7 Juta Jiwa Terancam Gagal Nyoblos di 2019

thejak.co – Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo, berharap masyarakat yang sampai saat ini belum ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *