Sabtu , 25 November 2017

Makam Debora, Bakal Dibongkar

Kedua orang tua di makam Debora.

thejak.co – Polisi bakal bongkar makam bayi malang, Tiara Debora Simanjorng yang meninggal karena ditelantarkan Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat, guna kepentingan penyelidikan

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Metro Jaya, Kombes Adi Derian menyatakan pihaknya akan menyelidiki kasus yang menimpa anak dari pasangan Henny Silalahi dan Rudianto Simanjorang itu hingga tuntas.

Terkait hal tersebut, pihaknya akan memanggil pihak keluarga untuk dimintai keterangan, termasuk ijin tahapan pembongkaran makam guna kepentingan autopsi.

“Pemeriksaan terlebih dahulu, itu (autopsi) kan tahapan selanjutnya, nanti kami berkoordinasi dengan keluarga,” ungkapnya.

Orangtua Debora, Henny Silalahi dan Rudianto Simanjorang mengaku jika kematian anak pertamanya itu karena ditelantarkan pihak rumah sakit lantaran tidak memiliki uang.

Walau telah memohon pihak rumah sakit untuk menindaklanjuti keluhan anaknya yang terlihat sesak nafas dengan membayarkan uang sebesar Rp 5 juta dari total Rp 19, 8 juta biaya administrasi, orangtua Debora mengaku anaknya hanya ditempatkan di Unit Gawat Darurat (UGD), bukan Pediatric Intensif Care Unit) seperti yang disarankan dokter.

Keluh-kesah sang ibunda, Henny pun dituangkan dalam media sosial Facebook dan menjadi viral, terlebih ketika Debora dikabarkan meninggal dunia usai tergantung nasibnya selama 7,5 jam.

Pendamping advokasi orang tua Tiara Debora Simanjorang, Birgaldo Sinaga, mengatakan ragu jika kasus meninggalnya bayi Debora ke ranah hukum. Debora, 4 bulan, meninggal diduga akibat terlambat ditangani Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat.

“Saya sangat skeptis dengan perusahaan yang sangat besar itu. Apalah kami ini, kalau bicara hukum yang begitu sulit dijangkau orang miskin bisa memenangkan pertarungan di ruang pengadilan,” ujar Birgaldo di Kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Menteng, Jakarta Pusat, Senin (11/9).

Menurut Birgaldo, hukum sulit digapai oleh orang kecil seperti Henny Silalahi dan Rudianto Simanjorang, orang tua bayi Debora. Masih banyak proses dan pertarungan yang nantinya harus dilalui tanpa ada perlawanan.

“Kami hanya mempertimbangkan ketika pemerintah tidak merespons ini. Kami akan menyesal sekali apabila pemerintah abai dan tidak dengarkan suara kami,” ujar Birgaldo.

Henny Silalahi mengatakan dirinya khawatir bermasalah dengan hukum itu sangat pelik. Henny hanya berharap tidak ada bayi seperti Debora yang merasakan kepedihan atas pelayanan rumah sakit.

“Tujuan saya menyuarakan ini supaya tidak ada anak lain yang mengalami apa yang dialami anak saya,” ujar Henny.

Ia berharap tidak ada diskriminasi hak terhadap anak, khususnya dalam bidang kesehatan. Henny hanya ingin pihak rumah sakit mengakui kesalahannya, lalu meminta maaf dan menyampaikan empatinya.

Kematian bayi Debora diduga akibat terlambatnya penanganan pihak rumah sakit Mitra Keluarga Kalideres, karena keluarga korban tidak dapat membayar uang muka perobatan. Selain itu, pihak rumah sakit merujuk Debora ke tempat lain, karena RS Mitra Keluarga bukan rekanan BPJS Kesehatan.

Kendati bayi Debora sakit parah dan harus ada tindakan gawat darurat, RS Mitra Keluarga  menyarankan untuk dirujuk ke RS lain yang bekerja sama dengan BPJS. Upaya mencari RS rujukan memakan waktu cukup lama sehingga akhirnya bayi Debora meregang nyawa.

Satu pekan sebelum dibawa ke RS Mitra Keluarga di Kalideres, Debora sempat dibawa ke dokter spesialis anak di Rumah Sakit Cengkareng. Di sana, Debora diberikan nebulizer, obat untuk pengencer dahak. NH

Share

Check Also

Indonesian Model Search 2017

thejak.co – Setelah melewati serangkaian audisi di 29 kota di Indonesia dari bulan Mei 2017, ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *