Kamis , 16 November 2017

Ungguli Pesaingnya, Jokowi Dinilai Bakal Dominan Pada Pilpres 2019

Presiden Jokko Widodo (Jokowi)

thejak.co – Presiden Joko Widodo (Jokowi) diprediksi akan lebih leluasa memilih sosok calon wakil presiden (cawapres) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang.

Direktur Program Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Sirajudin Abbas mengungkapkan ada tiga kriteria sosok cawapres yang bisa mendampingi Jokowi.

Sirojudin juga mengatakan bahwa dari beberapa survei terakhir, elektabilitas Jokowi semakin menguat. Di sisi lain, lawan potensialnya yakni Prabowo Subianto stagnan.

Menurut Sirojudin, elektabilitas Jokowi pun lebih baik dibanding Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di dua tahun sebelum kembali maju sebagai calon presiden pada Pemilu 2009.

“Maka sebetulnya Pak Jokowi punya kesempatan lebih leluasa memilih wakilnya, sama halnya dengan SBY di 2009.

SBY tak tergantung pilihan dari partai karena elektabilitasnya kuat. Bahkan dia berani memilih Boediono, sesama Jatim, di mana hasilnya tetap tinggi,” jelas Sirajudin di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta.

Menurutnya, ada tiga kemungkinan Jokowi memilih cawapresnya pada Pilpres 2019. Pertama, jika isu yang jadi perhatian publik menyangkut keamanan dalam dan luar negeri, maka pilihan cawapres berlatar belakang kepolisian dan militer.

“Karena harus bisa men-deliver pesan bahwa pasangan presiden adalah kuat. Pak Jokowi di 2014 memilih Pak JK, karena memberikan sinyal garansi bahwa JK berpengalaman, punya koneksi, dan bisa tangani ekonomi. Itu mengisi kekosongan Jokowi,” ujar Sirajudin.

Kedua, jika isu di publik masalah ekonomi, maka kebutuhan cawapres dari kalangan ekonom. Ketiga, jika isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) menyita perhatian publik, maka harus memilih cawapres yang merepresentasikan Islam moderat, terbuka dan toleran. “Sebab ini terkait stabilitas lingkungan masyarakat,” kata Sirajudin.

Sebagai contoh, seandainya yang dominan isu toleransi, maka salah satu calon potensial adalah Ketua PKB Muhaimin Iskandar.

Bila isunya nasionalisme dan keamanan, maka bisa dipilih Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). “Kalau isunya ekonomi, bisa Sri Mulyani Indrawati atau yang lain,” ungkap Sirajudin.

Sirajudin mengingatkan partai-partai politik untuk membidik pemilih muda pada Pemilu 2019 karena jumlahnya mayoritas.

“Berdasarkan pendataan data pemilih, pemilih berusia 17-38 tahun mencapai 55 persen dari jumlah total pemilih pada Pemilu 2019,” terang Sirajudin.

Sirajuddin yakin bahwa sistem demokrasi adalah sistem yang baik, tapi tetap kritis terhadap tokoh-tokoh pemimpin, apalagi jika dinilai tidak sejalan dengan demokrasi.

“Pemilih muda juga mendukung pluralisme di Indonesia, sehingga cukup banyak yang khawatir terhadap isu SARA,” imbuh Sirajudin. DED

Share

Check Also

Status Setnov Tersangka Kembali Dituding Pesanan

thejak.co – Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah, mengaku menerima info janggal di balik keputusan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *