Kamis , 7 Desember 2017

Langkah Jokowi Percepat Pergantian Sosok Panglima TNI Dinilai Tidak Etis

Presiden Jokowi dan Jenderal Gatot Nurmantyo

thejak.co – Keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mempercepat pergantian panglima TNI dinilai sebagai bentuk politik tidak etis.

Demikian disampaikan Ketua Progres 98, Faizal Assegaf. Menurut Faizal, langkah Jokowi tersebut jelas merugikan Jenderal Gatot Nurmantyo.

“Andai hubungan Jokowi dan Gatot berjalan mesra, saya kira proses pergantian panglima TNI akan dibuat elegan, bermartabat dan tanpa tendensi,” ujarnya melalui keterangan tertulis kepada RMOL, baru-baru ini.

Jabatan Gatot baru akan berakhir pada Maret 2018 mendatang. Namun, kata Faizal, desakkan pemecatan Gatot terus-menerus digulirkan oleh PDIP dan kelompok kontra TNI pada Desember 2017.

“Hal itu memberi indikasi kuat bahwa Jokowi bertindak atas tekanan kekuatan terkait di lingkaran Istana. Tentu akan memicu eskalasi politik jelang Pilpres 2019,” ungkap Faizal.

Terlebih, lanjut Faizal, belakangan Istana mencurigai Gatot dekat dengan gerakan politik Islam dan merupakan jenderal titipan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), serta sangat loyal pada Prabowo Subianto.

Lebih memprihatinkan lagi, Gatot kabarnya difitnah telah merencanakan kudeta melalui penggalangan kekuatan massa Islam dalam aksi 411 dan 212 di akhir tahun 2016.

“Sangat tidak elok Jokowi memanfaatkan dinamika politik yang tidak sehat tersebut untuk mempercepat pencopotan Gatot. Suka atau tidak bakal menimbulkan problem krusial dan sudah pasti memicu prahara politik nasional,” kata Faizal.

Untuk itu, sebaiknya DPR dan Presiden Jokowi menahan diri. Menurut Faizal, biarkan saja pergantian Jenderal Gatot Nurmantyo berjalan nomatif pada Maret 2018 mendatang.

“Sehingga pergantian panglima TNI tidak terkesan Gatot didepak mirip Anies diusir dari kabinet,” ucap Faizal.

Sementara itu, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyampaikan terima kasih kepada Presiden Jokowi yang telah menunjuk Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Hadi Tjahjanto sebagai calon tunggal Panglima TNI.

Jenderal kelahiran Tegal, Jawa Tengah, ini justru menginginkan proses pelantikan Marsekal Hadi Tjahjanto dipercepat supaya kepemimpinan di TNI berjalan efektif. Di sisi lain, Gatot merasa tidak enak dalam bekerja kalau Hadi Tjahjanto sudah disetujui DPR tapi tak segera dilantik.

Sebab itu, Gatot berharap Hadi nantinya langsung dilantik, tanpa harus menunggu dirinya pensiun. “Saya kerja juga pakewuh, Pak Hadi juga gimana. Lebih baik efektif saja, begitu selesai, mungkin satu minggu, lima hari, saya pamitan,” ujar Gatot.

Setelah proses pelantikan nanti, Gatot memastikan tetap berada di belakang Marsekal Hadi Tjahjanto dan siap memberikan bantuan pendampingan bila diperlukan. DED

Share

Check Also

PKS Kecam Pengakuan Pemerintah AS Yerussalem Sebagai Ibukota Israel 

thejak.co – Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *