Senin , 18 Desember 2017

Virus Batuk Mematikan Serang Warga Jakarta

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Koesmedi Priharto

thejak.co – Warga DKI Jakarta diminta waspada. Pasalnya, virus batuk mematikan, difteri, telah masuk dan menyerang warga DKI Jakarta.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, setidaknya sudah ada 22 orang yang terkena virus difteri. Kesuluruh korban berusia di bawah 10 tahun.

“Umumnya anak-anak. Ada yang belum divaksin, ada juga yang sudah. Kami masih menelusuri,” ujar Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Koesmedi Priharto, di Jakarta, Rabu (6/12).

Koesmedi mengatakan, semua korban yang terserang wabah difteri tersebut sudah diobati dan sembuh. Wabah itu berasal dari bakteri Corynebacterium diphtheria, yang penyebarannya cukup cepat melalui udara.

Wabah difteri bisa dicegah dengan vaksinasi sejak bayi. Kemudian vaksinasi lanjutan atau booster di usia 2 tahun untuk menguatkan vaksin pertama.

Untuk mengantisipasi agar wabah tidak meluas, Koesmedi sudah memerintahkan tiap Puskesmas di DKI untuk waspada. Jika ada pasien yang terkena difteri, ia meminta petugas melakukan surveillance, yaitu melacak sampai sejauh mana dan muasal kuman itu menjangkiti korban.

Wilayah perbatasan DKI, seperti Kabupaten Tangerang, telah menetapkan status kejadian luar biasa difteri sejak 31 Oktober 2017. Penyakit akibat infeksi bakteri pada selaput lendir hidung dan tenggorokan itu telah menewaskan empat orang di Tangerang dan puluhan lain harus menjalani perawatan.

Korban yang meninggal rata-rata berusia 4-6 tahun. Dinas Kesehatan setempat mencatat saat ini total warga Kabupaten Tangerang yang terjangkit difteri berjumlah 23 orang. Dua di antaranya masih menjalani perawatan di rumah sakit umum daerah setempat.

Di RSUD Kabupaten Tangerang, masih ada delapan pasien difteri yang dirawat di ruang isolasi hingga saat ini. Pasien difteri yang dirawat di RSUD tersebut berjumlah 30. Mereka berasal dari Banten, DKI Jakarta, dan Depok. Sebagian besar dari mereka diperbolehkan pulang karena sudah pulih.

Virus difteri ini menggemparkan publik sejak akhir November lalu. Kementerian Kesehatan bahkan merilis data Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit difteri selama 2017.

Provinsi Jawa Timur tercatat paling banyak yakni 271 kasus dan 11 kematian. Disusul Provinsi Jawa Barat sebanyak 95 kasus dan 10 kematian.

Selanjutnya Provinsi Banten dengan jumlah 81 kasus dan tiga kematian. Selain itu, KLB juga terjadi di Pontianak, Banjarmasin dan beberapa daerah lainnya. Difteri merupakan penyakit yang sangat menular dan berpotensi mengancam jiwa.

Difteri disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae. Umumnya bakteri difteri menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan.

Terkadang, penyakit ini juga dapat memengaruhi kulit. Bagi yang mengalami penyakit ini, tenggorokan terasa sakit disertai dengan demam dan tubuh akan melemah. Selain itu, penderita juga akan mengalami sesak napas karena saluran di tenggorokan terblokir oleh selaput tebal berwarna abu-abu.

Penyakit ini sangat menular dan berbahaya. Bakteri dapat menyebar dengan mudah dan cepat. Orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, tidak rutin imunisasi, dan tinggal dalam lingkungan yang penuh sesak cenderung lebih berisiko untuk mengalaminya.

Orang yang terinfeksi pun seringkali tidak menyadari jika mereka mengalami penyakit difteri. Sebab, terkadang, tanda dan gejala dari penyakit ini tidak dirasakan oleh penderitanya. Jika tidak ditangani dengan cepat, penyakit ini akan menimbulkan penyakit lain yang lebih serius, seperti kerusakan jantung, dan kerusakan saraf. SIR

Share

Check Also

Dapat 30 Kursi, Gerindra Jawara Kebon Sirih

TheJak – Partai Gerindra dipastikan akan menjadi juara di Jakarta. Partai berlambang Garuda ini bakal ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *