Kamis , 21 Juni 2018

SIAP-SIAP, TARIF TOL JORR BAKAL NAIK

Gardu Tol Otomatis.

thejak.co – Bagi Anda pengguna ruas jalan tol siap-siap mendapat kejutan dari pemerintah. Dalam waktu dekat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bakal menaikkan tarif.

Tidak tanggung-tanggung, setidaknya ada enam ruas tol yang akan mengalami perubahan tarif. Sebelumnya, enam ruas tol tersebut gagal menerapkan tarif tol baru karena belum memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM).

Kepala Badan Pengatur ?Jalan Tol (BPJT), Herry Trisaputra Zuna menjelaskan, saat ini SPM keenam ruas tol tersebut sudah dilakukan perbaikan, maka dalam waktu dekat akan diusulkan kembali.

Herry menjelaskan, enam ruas tol yang diusulkan mengalami kenaikan tarif adalah Tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang, Padalarang-Cileunyi, JORR Non S, Pondok Aren-Ulujami, JORR W2 Utara, dan JORR S. Di mana, tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang dikelola oleh badan usaha jalan tol (BUJT) PT Jasa Marga Tbk.

“Untuk JORR sambil nanti kita lakukan integrasi karena kita punya program menghilangkan gerbang yang di Meruya sehingga JORR akan jadi satu kesatuan mulai dari akses Tanjung Priok dengan JORR lainnya,” jelas Herry di Jakarta, Rabu (3/1).

Menurut Herry, kenaikan tarif nantinya akan disesuaikan dengan inflasi yang terjadi di setiap daerah. Di mana besaran kenaikan tarif jalan tol tersebut akan berbeda.

Sebelumnya, pada 8 Desember 2017 lalu, tarif tol dalam kota Jakarta naik Rp 500 sampai Rp 1.500. Kenaikan tarif sebesar Rp 500 terjadi pada Golongan I, Golongan II dan Golongan III. Sementara itu, kenaikan sebesar Rp 1.000 terjadi pada Golongan IV. Sedangkan untuk Golongan V mengalami kenaikan Rp 1.500.

Herry menjelaskan, kemacetan yang terjadi di tol dalam kota merupakan di luar kendali badan usaha. Hal inilah yang akhirnya memutuskan BPJT untuk menaikkan tarif tol tersebut, meski kemacetan yang ada membuat standar kecepatan kendaraan yang ditentukan dalam SPM tidak terpenuhi.

“Itu (kemacetan) di luar kendalinya badan usaha. Jalan itu ada kapasitasnya. Jadi masalahnya itu bukan hanya masalah operator. Padahal kita sebagai pengguna berkontribusi juga, sudah tahu macet malah ditambahin.

Prinsip pricingnya kemacetan itu kan setiap tambahan kendaraan satu, menyebabkan kesulitan bagi kendaraan yang lain. Jadi macet itu hasil karya dari kita-kita juga. Mungkin salah satunya karena terlalu murah juga (tarifnya),” pungkasnya. SIR

Share

Check Also

FKPB Bareng Pospera & Pena 98 Banten Hadiri Rembuk Nasional 98

Thejak, FKPb- Forum Komunikasi Pemuda Batak ( Indonesia ) siap menghadiri Acara Rembuk Nasional 98 ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *