Jumat , 20 Juli 2018

Makan Manusia, Buaya Raksasa Ditangkap Warga

 

Buaya pemangsa manusia ditangkap warga.

thejak.co – Buaya seberat 1 ton pemangsa warga di Desa Sebangau Besar, Kalimantan Tengah, akhirnya berhasil dijerat dan tewas. Butuh waktu hampir seminggu untuk menjerat buaya ini dan menjadi viral di media sosial.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Kalimantan Tengah, Junaedy Slamet Wibowo, menceritakan pihaknya mendapat laporan warga bernama Aman tewas saat mencari udang di Muara Sungai Sebangau, Kabupaten Pulang Pisau, Sabtu (20/1). Mereka pun terjun ke lokasi untuk melakukan evakuasi.

Delapan orang dari tim BKSDA Kalteng terjun ke lokasi ke Desa Sebangau Jaya dan baru sampai sore hari karena medan yang cukup sulit. Setibanya di lokasi, tim langsung bergerak mengumpulkan informasi.

Hari kedua, tim BKSDA Kalteng bersama warga mulai melakukan penelusuran setelah kepala masyarakat setempat menunjukkan lokasi kejadian. Tim berupaya maksimal, namun hasilnya nihil.

“Berhubung saking luasnya wilayah sungai yang lebarnya sekitar 100 meter, jadi buaya itu belum dapat ditemukan pada seharian itu. Malamnya kami tidak dapat melakukan survei karena kondisi laut, cuaca ombak pasang tinggi,” kata Junaedy, Selasa (13/2).

Karena medan yang sulit, setelah berkoordinasi dengan masyarakat tim BKSDA memutuskan untuk menjerat buaya dengan umpan monyet ekor panjang. Jerat dipasang di tiga titik tempat kemungkinan buaya itu muncul.

“Kalau untuk penangkapan secara manual susah dilakukan. Pertama wilayah dan kondisi ombak. Kedua Pantai yang ada di situ berlumpur. Tim susah beraktivitas saat menangkap, malah nantinya resiko keselamatan tinggi. Jadi hari kedua kami memasang umpan atau jerat,” jelas Junaedy.

“Jadi jeratnya itu semacam pancing, dikasih daging umpan, digantung di atas permukaan air dengan pelampung, istilahnya kalau air pasang dia nggak akan tenggelam, kalau surut nggak akan nyentuh permukaan tanah. Seperti mancing ikan,” sambungnya.

Hari ketiga, tim BKSDA Kalteng memeriksa tiga jerat yang dipasang. Dua jerat yang dipasang umpannya hilang, namun menurut Junaedy kemungkinan terhempas arus air atau dimakan hewan lainnya, diduga biawak.

Dua umpan monyet yang hilang pun diganti, salah satunya diganti umpan bebek. Tapi sayang, menurut Junaedy, tim BKSDA Kalteng tidak bisa berbuat banyak pada tanggal 31 Januari itu karena kondisi alam yang tidak bersahabat bersamaan dengan fenomena super blue blood moon.

Esoknya,  tim kembali memeriksa jerat yang dipasang namun hasilnya nihil. Setelah mempertimbangkan sejumlah hal, tim akhirnya memutuskan meninggalkan lokasi untuk menangani sejumlah laporan warga soal satwa liar di wilayah lain. Meski begitu warga tetap mengawasi jerat yang dipasang.

“Hari kelima kami kembali ke Palangka, pas di pertengahan jalan ada informasi Jumat pagi (2/2) buayanya terjerat. Infonya buaya tersebut sudah dalam kondisi mati. Jadi dari hasil koordinasi dengan aparat, dikuburkan di lokasi penemuan tersebut,” jelas Junaedy.

Buaya itu menurut Junaedy berukuran besar. Panjangnya 5,18 meter dan lebar 70 cm. “Beratnya sekitar 1 ton,” ucapnya. Warga meyakini buaya inilah yang memangsa warga bernama Aman.

“Buaya jantan sifatnya teritorial, kalau ada buaya jantan di satu wilayah, buaya lain tidak akan berani masuk ke wilayah tersebut. Ini dibuktikan juga oleh warga yang mengangkat tubuh korban saat itu, kata dia buaya itu memang yang menindih korban,” ujarnya.

Ditambahkan Junaedy, sejak buaya ini ditangkap warga di sekitar lokasi tidak lagi resah beraktivitas sebagai nelayan. BKSDA Kalimantan Tengah juga telah memasang sejumlah imbauan di lokasi agar warga tetap waspada dalam beraktivitas.

“Serangan buaya baru sekali itu terjadi di tahun ini. Dari dulu daerah tersebut memang habitatnya buaya,” katanya.

Buaya seberat 1 ton pemangsa warga di Desa Sebangau Besar, Kalimantan Tengah, akhirnya berhasil dijerat dan tewas. Butuh waktu hampir seminggu untuk menjerat buaya ini.

Karena medan yang sulit, setelah berkoordinasi dengan masyarakat tim BKSDA memutuskan untuk menjerat buaya dengan umpan monyet ekor panjang. Jerat dipasang di tiga titik tempat kemungkinan buaya itu muncul.

“Kalau untuk penangkapan secara manual susah dilakukan. Pertama wilayah dan kondisi ombak. Kedua Pantai yang ada di situ berlumpur. Tim susah beraktivitas saat menangkap, malah nantinya resiko keselamatan tinggi. Jadi hari kedua kami memasang umpan atau jerat,” jelas Junaedy.

“Jadi jeratnya itu semacam pancing, dikasih daging umpan, digantung di atas permukaan air dengan pelampung, istilahnya kalau air pasang dia nggak akan tenggelam, kalau surut nggak akan nyentuh permukaan tanah. Seperti mancing ikan,” sambungnya. NH

 

Share

Check Also

HMS Desak KPK Tuntaskan BLBI dan Century Gate, 2018

thejak.co – Massa Gerakan Hidupkan Masyarakat Sejahtera (HMS) terus mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) agar ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *