Minggu , 24 Juni 2018

Sebuah Koin (Catatan Seorang Mahasiswa)

Maulana Syarif Habibi 

 

Sebuah reformasi politik merupakan bukti dari kedewasaan dari negara kita kala itu. Kemudian hal menggelitik muncul belum lama ini, dimana buah dari reformasi politik yaitu demokrasi diujikan. Sebuah peristiwa yang menarik hati saya sebagai mahasiswa yakni kartu kuning yang diajukan terhadap Presiden Jokowi oleh ketua BEM Universitas Indonesia (UI) Zaadit Taqwa.

Merupakan hal yang menarik untuk saat ini karena hingga detik ini saya tidak pernah melihat mahasiswa Indonesia berjuang untuk negaranya, minimal mewujudkan fungsi control terhadap pemerintah sejak masa reformasi. Mungkin berdemo masih dilakukan oleh beberapa mahasiswa, namun keefektifan dari hal tersebut patut dipertanyakan. Pasalnya tuntutan yang disampaikan saat berdemo mungkin tidak terdengar oleh mereka-mereka yang memangku jabatan dan memiliki kewenangan.

Dan Zaadit muncul sebagai pelopor pergerakan. Layaknya sebuah koin yang kita lemparkan ke suatu tempat kosong. Tentunya akan banyak orang yang tertarik terhadapnya dan akan bisa melihat koin tersebut dari satu sisinya saja. Namun saya justru melihat kedua sisi tersebut merupakan hal yang perlu kita pahami.

Ada sisi pro dan sisi kontra. Sisi pro dari gerakan ini adalah tentunya akan menyadarkan pemerintah bahwa kita tidak diam. Kemudian juga kita sebagai mahasiswa ingin membantu pemerintah dalam mewujudkan cita-cita negara ini yang tercantum pada Pembukaan UUD 1945 alinea terakhir.
Selain itu juga menunjukkan bahwa mahasiswa dari jurusan manapun ingin turut serta dalam mengontrol negara ini bahkan bila memungkinkan kami akan turun langsung untuk membantu pemerintah.

Hal ini juga didapatkan dari hasil wawancara yang diselenggarakan oleh Najwa Shihab yang membahas kelanjutan dari tuntutan ini.

Dan satu lagi sisi pro yang patut dipertimbangkan adalah dengan adanya kejadian ini, banyak mahasiswa termasuk saya tergugah untuk ikut bergerak mengawasi kinerja pemerintah. Baik memang mereka yang baru sadar atau mereka yang tidak percaya diri dalam bertindak karena tidak ada teman dalam beraksi.

Namun dari semua kebaikan itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada sisi koin lainnya, yaitu sisi kontra. Dari para pengkritik Zaadit, ada banyak macam yang terlontar oleh mereka. Namun satu hal yang perlu diperhatikan, kritik tersebut banyak yang tidak akurat, dalam artian sebuah kritik yang tidak memiliki korelasi langsung terhadap tindakan Zaadit yang menurut saya bersifat subjektif.

Bahkan seorang menteri sekalipun bisa mengeluarkan respon yang menurut saya tidak sesuai dengan wawasan yang beliau miliki. Dari sisi yang kontra dengan Zaadit, memang tindakan seperti ini bisa dikatakan cukup gegabah dimana tindakan tersebut perlu bisa melalui jalan yang lebih demokratis dengan mengajak bertemu Bapak Jokowi langsung. Kemudian kalau beralasan tentang bagaimana kekuatan tuntutan yang di layangkan tidak memiliki bukti yang kuat, hal ini bisa dijadikan alasan yang benar untuk “melawan” Zaadit.

Walaupun dari sisi praktikal, perlu diapresiasi tindakan ini sebagai sebuah bentuk kepedulian dan bukti mahasiswa mau membantu. Namun satu alasan yang menurut saya cukup menggelitik adalah dari 3 tuntutan yang diucapkan oleh Zaadit, ada 1 tuntutan yang menurut saya seharusnya tidak dilayangkan saat itu, yaitu tentang tuntutan gizi buruk dan masalah lainnya di Papua. Tuntutan ini membawa pandangan lain yang menurut saya cukup menarik.

Disini, politisi senior dari PDI-P, Adian Napitupulu berkomentar terhadap tuntutan tersebut dengan alasan untuk meningkatkan kekuatan moral yang ada pada tuntutan tersebut, seharusnya para mahasiswa mengadakan survey langsung dan merasakan langsung kondisi di sana sehingga memiliki nilai yang kuat dalam melayangkan tuntutan tersebut. Memang tidak salah komentar tersebut, namun Zaadit juga tidak salah karena hal ini boleh-boleh saja sebagai praktek demokrasi. Namun yang sangat disayangkan adalah tuntutan ini memiliki relasi terhadap pendapat yang digunakan oleh salah satu partai yang mengkritik presiden.

Dengan kondisi ini ada indikasi yang menurut saya bahwa mungkin saja Zaadit “ditumpangi” oleh kepentingan lain. Karena tidak ada survey yang mendalam dan menuju ke lokasi, saya sebagai mahasiswa memiliki pandangan bahwa hal ini bisa jadi merupakan tindakan yang bisa jadi boomerang terhadap niat baik yakni mengawasi pemerintah. Dari 2 tuntutan yang lain, saya sangat mendukung tuntutan tersebut dan perlu dilakukan.

 

Maulana Syarif Habibi 

Mahasiswa Teknik Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya

DRI

 

 

 

 

 

 

 

Share

Check Also

Taufik: HMI Harus Jadi Pelopor Kemajuan Jakarta

THEJAK – Para kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diminta agar terus berkreasi, berkarya dan kretif. ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *