Minggu , 27 Mei 2018

Tanah Amblas, DKI Mulai Tenggelam

 

 

Jalan retak ditemukan di jalan Kesatria,Kebon Manggis, Matraman,Jakarta Timur, Kemarin

 thejak.co – DKI Jakarta sedikit demi sedikit mulai tenggelam. Setiap tahunnya, tanah di Jakarta turun atau amblas sekitar 18 cm. Salah satu bukti adalah jalan mulai retak di Kampung Berlan, Matraman, Jakarta Timur.

Jalan retak ditemukan di Jalan Kesatrian X, RT 012 / RW 003, Kebon Manggis, Matraman, Jakarta Timur. Retakan jalan tersebut seluas kurang lebih 50 meter. Adapun jalan tersebut terletak di samping sungai Ciliwung. Menurut penuturan Lurah dan warga setempat, retak jalan terjadi sejak hari Minggu (11/2) lalu.

“Saya dapat laporan sejak hari Minggu pukul 23.00 WIB, memang saat itu belum besar dan sudah dilakukan hotmix oleh Sudin Bina Marga, tapi ya itu kondisinya lepas lagi,” ungkap Lurah Kebon Manggis, Mesrarianita, saat ditemui di sekitar lokasi kejadian, Selasa (13/2).

Menurutnya, faktor yang menyebabkan jalanan retak tersebut adalah kondisi alam. “Abrasi ya, karena Kebun Manggis kemarin kan ada banjir, sebelum banjir juga sempat gempa,” jelasnya.

Ia pun menuturkan untuk sementara Jalan Kesatrian X tersebut ditutup. Padahal jalanan tersebut biasanya menjadi jalur alternatif pintas warga di sekitar Berlan, Matraman, Jakarta Timur.

Sementara menurut Ketua RW 003 Kebon Manggi, Sebelum jalan retak, tembok pembatas sungai juga pernah retak di Kampung Berlan. “Kalau tembok pembatas sungai retak sudah pernah, tapi kalau jalanan sampai retak belum pernah,” tuturnya.

Ia pun mengaku takut karena kondisi jalan kini miring ke arah sungai. Mereka juga takut akan terjadi longsor setelahnya. “Takutnya sih takut imbasnya longsor karena kemiringan jalan ya, yang tadinya rata sekarang kan miring,” jawabnya.

Sumiati berharap agar permasalahan di sekitar rumahnya dapat dirampungkan dengan segera agar tidak ada dampak yang lebih besar nantinya. “Diharapkannya agar cepat diselesaikan permasalahan yang ada di sini,” ungkapnya.

Jalanan retak jalan tersebut berkisar sepanjang 50 meter. Jalanan tersebut sudah ditambal namun retak kembali. Hingga kini warga masih menunggu perbaikan jalan dari Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane.

Wakil Gubernur DKI Jakarta menerima laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika tentang jalan retak di Kampung Berlan, Matraman, Jakarta Timur. Retak itu diduga karena ada sesar atau patahan di bawah tanah kawasan tersebut.

“Teman-teman dari BMKG mengatakan bahwa salah satu kewaspadaan yang harus kita tingkatkan adalah di sekitar wilayah Jatinegara itu atau wilayah yang dekat dengan Berlan ya. Diprediksi ada patahan atau ada patahan yang selama ini tidak aktif,” kata Sandiaga di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (13/2).

Laporan dari BMKG itu diterima Sandiaga, Senin (12/2) kemarin. Saat ini, pihak BMKG sedang menganalisis patahan tersebut.

“Nah mereka (BMKG) lagi lihat data-data dari tahun 1916, pergerakan dan data-data baik sinyal S maupun sinyal P di patahan tersebut, baru dibicarain kemarin,” terang dia.

Analisa sementara, jalanan retak akan kembali timbul jika terjadi gempa. Bahkan, patahan di bawah tanah itu dapat pula berimbas terhadap bangunan-bangunan yang ada di sekitar patahan tersebut.

“(Potensinya ada) dua, satu adalah gempa, nomor dua adalah tentunya pergerakan-pergerakan khususnya yang berkaitan konstruksi dan gedung-gedung yang berada di sekitar patahan tersebut,” imbuh dia.

Sementara itu, BMKG bersama Badan Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI dan BPBD DKI, saat ini juga sedang menyusun standar operasional prosedur (SOP) mengenai penanganan bilamana terjadi gempa.

“Karena kita punya golden period, setiap ada gempa kalau itu 200 km kira-kira kita punya waktu 20 detik. Jadi SOP apa saja yang perlu dicermati dan diinstitusionalisasikan oleh Pemprov dan masyarakat Jakarta harus mengetahui,” papar Sandiaga.   

Menara Syahbandar Jakarta Miring

Tak hanya jalan retak di Kampunng Berlan, menara kebanggaan Jakarta yakni Menara Syahbandar yang berada di Jalan Pasar Ikan Raya, Jakarta Utara kini juga mulai terlihat miring. Miringnya menara tersebut tak serta merta terjadi begitu saja.

Menara yang didirikan pada 1893 itu mengalami kemiringan sekitar lima derajat ke arah selatan. Kemiringan ini diduga terjadi lantaran fondasi bangunan ambles karena tanah yang menopangnya mengalami penurunan.

Ahli Geodesi Institut Teknologi Bandung Hasanuddin Z Abidin tak menampik anggapan tanah Jakarta ambles. Hasanuddin menerangkan, tanah di wilayah Jakarta Utara, banyak mengalami penurunan. Penurunan ini terjadi bahkan sejak 1974.

“Kalau di Jakarta itu penurunan tanah paling besar terjadi di bagian utara dan barat,” kata Hasanuddin.

Hasanuddin menjelaskan, daerah Pasar Ikan, yang merupakan wilayah tempat Menara Syahbandar berdiri, merupakan daerah yang paling besar mengalami penurunan tanah. Besaran penurunannya mencapai 18 centimeter per tahun. “Pasar ikan lebih parah. Ada yang lebih dari 18,” jelas dia.

Tak hanya di Menara Syahbandar, penurunan muka tanah juga terjadi di Gudang Pompa, Penjaringan, Jakarta Utara. Di lokasi ini, ketinggian tanah berada 1,5 meter di bawah permukaan air laut. Wilayah ini pun kerap diterjang rob lantaran permukaan air laut naik ke daratan.

Hasan salah seorang warga Gudang Pompa, mengatakan, rob kerap menerjang saat air laut pasang. Lelaki paruh baya yang memakai kacamata ini bercerita, dia sudah tinggal di wilayah tersebut sejak 1970-an. Di masa itu, Hasan ingat betul luas daratan di wilayahnya masih menjorok sekitar 50 meter dari daratan Gudang Pompa, hari ini. Hasan menuturkan, lokasi rumah warga di masa itu pun ada yang dibangun di atas dataran yang kini sudah tenggelam diterjang air laut.

Hasan menyadari daerah tempat tinggalnya, kini sudah banyak berubah. Jalan yang berada di depan rumahnya pun sudah naik beberapa meter. Peninggian jalan dilakukan seiring dengan naiknya air laut. Lelaki berkulit legam itu menilai, air laut terus naik. Tapi, dia tak menyadari tanah yang diinjaknya kian menurun setiap tahun. “Air yang naik. Tanah enggak turun,” kata Hasan.

Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melansir, penurunan tanah di Jakarta mencapai 18 centimeter per tahun. Jan Sopaheluwakan, ahli geoteknologi LIPI menyebutkan, angka penurunan itu merupakan gambaran rata-rata dari penurunan tanah yang terjadi selama ini.

Menurut Jan, kecepatan penurunan permukaan tanah yang terjadi di DKI Jakarta berbeda-beda pada tiap tempat. Angka 18 centimeter adalah perkiraan secara umum yang terjadi. “Yang ada secara umum, belum tahu secara detail,” kata Jan.

Senada, Direktur Pengairan dan Irigasi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Abdul Malik Sadat Idris mengatakan, terjadi penurunan permukaan tanah di Jakarta sekitar 3 hingga 18 sentimer (cm). Penurunan permukaan tanah itu disebabkan beban bangunan gedung, serta pengambilan air tanah yang tidak terkontrol.

“Data geodesinya sudah cukup lengkap. Ada yang turun 3 cm, ada 18 cm. Tapi ahli kami  sedang meneliti lebih detail lagi untuk meramalkan agar lebih presisi,” ujar Abdul.

Abdul mengatakan, tren penurunan permukaan tanah berbeda-beda di setiap lokasi. Namun, penurunan permukaan tanah paling dalam terjadi di Muara Baru, Jakarta Utara. Itulah sebabnya kawasan tersebut saat ini kerap terendam banjir rob.

Untuk menanggulangi hal tersebut, pemerintah sedang membangun National Capital Integrated Coastal (NCICD) atau tanggul laut di Teluk Jakarta. Tahun ini pemerintah tengah membangun tanggul lanjutan sepanjang 20 kilometer termasuk pembangunan tanggul Muara Baru.

Abdul mengatakan bila penurunan permukaan tanah tidak ditanggulangi, bisa jadi pada 2050 permukaan tanah di Jakarta bisa turun 30 persen. “(Tahun) 2050 bisa turun permukaan tanah salah satu simulasi bila tidak ditanggulangi,” ujar dia. RBN

Share

Check Also

Ini Dia Pasukan Layanan Aktif BAZNAS

  THEJAK – BAZNAS memiliki unit layanan yang menjadi garda depan dalam memecahkan masalah sosial ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *