Senin , 28 Mei 2018

Tanjakan Emen Kembali Minta Tumbal

 

Mobil isuzu Elf yang hancur akibat terguling di Tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat, kemarin.

thejak.co –  Tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat kembali makan korban. 16 orang menderita luka akibat kecelakaan lalu lintas di Tanjakan Emen, Senen (12/3).  Menurut Kasat Lantas Polres Subang AKP Budhy Hendratno korban terdiri dari empat korban luka berat dan 12 luka ringan. “Kecelakaan tunggal. Semua korban penumpang mini bus. Korban telah dalam penanganan medis,” katanya.

Rata-rata korban mengalami luka sobek di bagian tangan dan kaki, serta beberapa orang ada yang mengalami patah tulang. Kecelakaan tunggal itu terjadi tepat di lokasi kejadian kecelakaan bus maut yang menyebabkan 27 orang meninggal dunia beberapa waktu lalu. Mini bus yang dikendarai oleh Arif Fahruroji (32) itu terguling di lokasi.

Para penumpang mini bus itu baru saja berwisata di Gunung Tangkuban Parahu. Mobil melaju dari arah Lembang menuju Subang. “Berangkat dari lokasi wisata Gunung Tangkuban Parahu, dalam perjalanan pulang menuju Kabupaten Indramayu,” sebutnya.

Tidak ada korban meninggal dunia akibat musibah yang terjadi di jalan yang baru saja di ganti menjadi Tanjakan Aman itu. Seluruh korban kini telah dibawa ke RSUD Subang untuk penanganan medis lebih lanjut. Dugaan awal, kata AKP Budhy supir kendaraan Isuzu Elf berplat nomor E-7548-PB, Arif Fahruroji (32) diduga hilang konsentrasi.

“Saudara Arif Fahruroji kehilangan konsentrasi, sehingga kendaraan melaju tidak terkendali, oleng ke kiri keluar dari badan jalan,” kata Budhy.

Budhy mengatakan bahwa kondisi mini bus elf berwarna putih yang mengalami kecelakaan dalam kondisi bagus. Cuaca pada saat kejadian cerah dan arus lalu lintas sedang.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Mohammad Iqbal menceritakan kronologis kecelakaan tersebut. Mobil Isuzu nomor polisi E 7548 PB mengangkut rombongan karyawan Rumah Makan Taman Selera Kabupaten Indramayu berangkat dari lokasi wisata Gunung Tangkuban Parahu, Bandung.

“Rombongan tersebut sedang dalam perjalanan pulang ke Kabupaten Indramayu,” ujar Iqbal di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (12/3).

Setibanya di likasi kejadian, Iqbal mengatakan mobil tersebut melintas di jalan yang menurun dan menikung ke kanan. Kendaraan, jelas dia, melaju tidak terkendali dan oleng ke kiri sehingga keluar dari badan jalan.

Akibatnya, kendaraan menabrak tebing yang berada di sebelah kiri jalan. Kendaraan pun terguling miring ke sisi kiri di bahu jalan sebelah kiri. Pihak kepolisian, kata Iqbal, telah mengamankan barang bukti kendaraan yang terlibat dalam kecelakaan lalu lintas di Polsek Jalancagak, Polres Subang.

“Tindakan yang sudah kami lakukan yaitu menerima Laporan, mendatangi TKP dan olah TKP, mengecek korban ke RSUD Ciereng Subang, identifikasi korban, kemudian menghubungi keluarga korban,” kata jenderal bintang satu itu.

Tanjakan Emen sendiri masih kental dengan cerita legendarisnya. Malah hingga kini warga maupun pengendara masih melakukan tradisi buang rokok setiap melintas di Tanjakan Emen.

Mitos mistis tersebut kerap dikait-kaitkan dengan rentetan kecelakaan yang terjadi di jalur tersebut. Jika dari arah Subang disebut tanjakan Emen, dari Bandung disebut turunan Emen.

Mitos mistis itu kemudian melahirkan tradisi. Warga melintas membuang rokok di sepanjang jalan turunan atau tanjakan Emen.

Tradisi itu kata Dedi (45) warga Kampung Cicenang, Desa Ciater, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang sudah dilakukan sejak puluhan tahun lalu. “Sudah dari dulu tradisi itu mah,” ujarnya.

Persis di lokasi kejadian tabrakan, Tribun Jabar melihat langsung seorang perempuan dibonceng di sepeda motor yang ?melemparkan sebatang rokok. Saat itu, Tribun Jabar sempat saling memandang dengan perempuan tersebut.

Setelah dibuang, bibir perempuan tersebut tampak membaca sesuatu kemudian berlalu. Saat dicek, rokok yang dibuangnya berupa rokok putih.

Ketika ditelusuri pinggiran lokasi kejadian, tampak sejumlah rokok baru bertebaran. Sedikitnya ada lima hingga tujuh batang rokok baru atau tidak ada bekas dibakar.

Dedi mengatakan, tradisi membuang rokok yang konon katanya untuk buang sial itu masih dilakukan hingga saat ini.

“Di sepanjang turunan saja dari Tangkuban Perahu sampai Kampung Aster. Kadang kalau rokoknya masih bagus kami ambil, kalau dikumpulkan bisa dapat satu bungkus,” ujar Dedi.

Asal usul nama Tanjakan Emen pun sudah diperbincangkan sejak lama oleh warga. Ada beberapa versi soal asal-usul nama Tanjakan Emen ini.

Dikutip dari kotasubang,com, nama Emen diambil dari seorang nama kernet bus yang tewas karena kecelakaan yang terjadi sekitar tahun 1969. Saat itu, bus bernama Bus Bunga mengalami mogok di tanjakan tersebut.

Emen sang kernet berusaha mengganjal ban, namun nahas remnya ternyata blong sehingga Emen terseret bus dan tewas.

Setelah kejadian itu, tanjakan tersebut dikenal dengan Tanjakan Emen. Lalu, versi kedua, Emen adalah seorang korban tabrak lari di tanjakan itu.

Dalam mitos menceritakan mayat Emen bukanya ditolong, malah disembunyikan di dalam rimbunan pepohonan tersebut. Sejak saat itulah arwah Emen dipercaya menuntut balas.

Versi yang ketiga, dikisahkan bahwa dulu Emen adalah seorang sopir oplet Subang – Bandung. Nahas bagi Emen ketika itu tahun 1964 oplet yang dikendarainya kecelakaan dan terbakar.

Banyak orang mengatakan Emen tewas di tempat kejadian, dan sejak saat itu semakin sering terjadi kecelakaan di sana.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan banyak pengendara yang percaya dengan melempar koin, rokok atau menyalakan klakson maka mereka akan terhindar dari bahaya saat melewati tanjakan Emen.

Berdasarkan hasil penelusuran hingga ke keluarga Emen dapat diketahui ternyata versi yang terakhir yang mendekati kebenaran.

Wahyu, pria yang mengaku anak dari Emen membenarkan peristiwa itu, namun ia menepis berbagai kejadian kecelakaan yang terjadi di sana diakibatkan oleh arwah Emen yang gentayangan.

“Lagi pula waktu itu bapak saya tidak meninggal di sana, tapi di Rumah Sakit Ranca Badak,” ujar Wahyu yang juga berprofesi sebagai sopir angkot di daerah Lembang.

“Waktu itu saya berusia kira-kira 8 tahun. Bapak saya memang sopir oplet Subang – Bandung, ketika itu kemungkinan remnya blong, kemudian opletnya nabrak tebing, terbalik kemudian terbakar. Seingat saya cuma 2 orang yang selamat waktu itu,” lanjutnya.

Setelah wafat di Rumah Sakit kemudian jenazah Emen dimakamkan di pemakaman umum di daerah Jayagiri, Lembang.

Di balik mitos yang berseliweran itu, kenyataannya kalau kondisi Tanjakan Emen memang rawan terjadi kecelakaan.

Kondisi tanjakan emen sepanjang 2-3 km ini sangatlah ekstrim, memiliki kemiringan 40-50 derajat dan memiliki tikungan – tikungan tajam, hal ini tentunya akan menyulitkan bagi yang kurang piawai memegang kemudi.

Untuk itu, sebaiknya setiap pengendara yang melintas harus ekstra hati-hati dan jangan lupa berdoa di sepanjang perjalanan. ASP

Share

Check Also

Penyanyi Innes Baladiva Bocorkan Manfaat dari Hipnotis

Belum lama ini adegan hipnotis kerap meramaikan layar kaca televisi Indonesia. Berbagai respon pun muncul ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *