Jumat , 20 Juli 2018

PAN dan Demokrat Gabung Jokowi, Poros Ketiga Bubar?

Presiden Joko Widodo (Jokowi)

thejak.co – Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrat dikabarkan akan bergabung dengan koalisi parpol pendukung capres Joko Widodo atau Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang.

Kabar ini disampaikan Ketua Umum PPP, Romahurmuziy. Walaupun kemudian kabar ini dibantah oleh Demokrat. Sebagai parpol yang juga belum secara resmi memutuskan arah koalisi, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menilai poros ketiga sangat mustahil terbentuk jika pada akhirnya PAN dan Demokrat mengusung Jokowi.

“Kalau itu benar, maka sangat mustahil terbentuk poros baru,” kata Sekjen PKB, Abdul Kadir Karding.

Jauh hari Karding telah memprediksi poros ketiga sulit terbentuk. Karena itulah pihaknya lebih condong merapat untuk mendukung Joko Widodo bersama PDIP, Partai Golkar, Partai NasDem, PPP dan Partai Hanura. “Itu sesuai prediksi saya sebelumnya,” ujar dia.

Karding pun enggan menanggapi lebih jauh kabar akan bergabungnya PAN dan Partai Demokrat ke koalisi pengusung Jokowi. Termasuk apakah dapat memperkecil peluang Muhaimin Iskandar (Cak Imin) sebagai cawapres, jika semakin banyak parpol yang bergabung ke koalisi Jokowi.

Seperti diketahui, PKB menyodorkan Ketua Umum Muhaimin Iskandar sebagai cawapres pendamping Jokowi. Bahkan, pada Selasa (10/4) lalu, kabarnya Cak Imin bertemu dengan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto untuk membahas arah politik Pemilu 2019. Cak Imin dinilai dapat mendongkrak suara Jokowi jika dipilih sebagai pendamping.

Sementara itu, Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) pemenangan Pilkada 2018 dan Pilpres 2019 Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengatakan munculnya poros ketiga di Pilpres 2019 masih sangat mungkin.

Namun, diakui Agus, hal tersebut tidak mudah untuk terealisasi karena setiap partai terkungkung oleh aturan ambang batas parlemen untuk mengusung presiden harus 20 persen suara di DPR. “Tidak mudah bagi parpol untuk menjadi jangkar pemersatu politik (partai) yang satu dengan yang lainnya,” ujarnya.

AHY mengatakan masih ada beberapa bulan lagi sebelum pendaftaran capres dan cawapres pada bulan Agustus 2018 bagi parpol untuk mengusung dua poros seperti Pilpres 2014, atau justru tiga poros seperti yang kini banyak diwacanakan. “Dalam politik itu serba mungkin namun kita lihat saja kedepannya,” ujar mantan cagub DKI tersebut.

Suami dari Anisa Pohan juga mengatakan dalam Pileg 2019 mendatang, Partai Demokrat ingin mengulangi kejayaannya sebagai partai pemenang pemilu yang pernah diraihnya dengan menargetkan 15 persen suara. “Untuk mencapai target itu maka sangat penting membangun tim yang solid, strategi yang efektif dan kerja keras tanpa lelah,” ucap putra sulung SBY ini.

Sedangkan, Partai Amanat Nasional belum menentukan sikap terkait arah politik dukungan untuk Pilpres 2019. Wakil Ketua Umum DPP PAN, Hanafi Rais, mengakui sikap partainya masih terus dibahas internal sebelum dideklarasikan secara resmi.

Menurut dia, PAN akan mengadakan survei internal untuk menentukan arah sikap dukungan di Pilpres 2019. “Jadi, untuk condong ke mana, saya tidak bisa katakan a dan b. Nanti, itu sifatnya sangat subjektif. Tetapi, secara internal kita akan mengadakan survei, akan mengarah ke siapa dan koalisi dengan siapa,” ujar Hanafi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.

Mengenai sikap Ketua Majelis Kehormatan PAN Amien Rais, ia menjawab diplomatis. Bagi Hanafi, Amien yang juga ayahnya dikenal kritis sejak lama. Sikap kritis ini, dinilai bukan hanya era Pemerintahan Joko Widodo. DED

Share

Check Also

HMS Desak KPK Tuntaskan BLBI dan Century Gate, 2018

thejak.co – Massa Gerakan Hidupkan Masyarakat Sejahtera (HMS) terus mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) agar ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *