Jumat , 20 Juli 2018

120 Wanita Siap Jadi Pengantin Bom

 

Polisi melakukan penggeledahan diSawojajar Malang, Senin (14/5) kemarin.

thejak.co – Kasus rentetan bom meledak yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur, dengan pelaku perempuan menjadi fenomena baru di Idonesia. Kini terungkap ada 120 perempuan yang siap menjadi pengantin (bom bunuh diri).

Hal itu diungkap Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Musdah Mulia. Data tersebut diperoleh selama Musdah mengerjakan tesis tentang keterlibatan perempuan dalam gerakan terorisme di Indonesia.

Musdah menjelaskan, 120 perempuan tersebut tersebar di berbagai jaringan penganut paham fundamentalis yang mengizinkan aksi teror. Ratusan perempuan itu juga mengenal satu sama lain.

“Dalam semua jaringan. Mereka terpecah-pecah dalam semua jaringan dan mereka itu sangat solid antar satu sama lain. Saling kenal,” jelas Musdah seusai menghadiri deklrasi Gerakan Warga Lawan Terorisme di Wahid Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (15/5).

Musdah memaparkan model terorisme dengan melibatkan perempuan serta anak-anak, bukanlah hal baru di Indonesia dan internasional.

Ia mencontohkan kasus rencana peledakan bom panci oleh Dian Yuli pada Desember 2016 lalu. “Jadi di dunia internasional memang ISIS itu sejak 4-5 tahun yang lalu itu sudah mengubah straregi mereka, dan menggunakan perempuan dan anak-anak sebagai pelaku. Itu akhir 2016 ketika terjadi bom panci Dian Yuli itu,” paparnya.

Untuk diketahui, keterlibatan perempuan dalam aksi teroristik termutakhir adalah pengeboman tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5).

Puji Kuswati, mengajak dua anak perempuannya untuk mengebom Gereja Kristen Indonesia. Sementara pada kasus bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya, Senin (14/5), ada perempuan yang juga menjadi pelaku.

Sementara itu,  Pemerintah terus memantau pergerakan Warga Negara Indonesia (WNI) yang kembali dari Suriah. Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk pro aktif memantau pergerakan terorisme dan radikalisme.

“Ya pantau polisi, tentara, saya yang di Kemenhan mantau juga,” ujar Ryamizard di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (15/5).

Ryamizard tidak menampik dalam penanganan aksi terorisme di tanah air pemerintah akan melibatkan TNI. Khususnya satuan gultor atau penanggulangan teror Satuan 81 atau dulunya lebih dikenal sebagai Sat-81/Gultor Kopassus.

“Kan sudah saya bilang sekarang generasi ketiga, siapa itu. Yang sekarang-sekarang (WNI dari Suriah) pulang. Bila perlu hansip, segala macam orang-orang dilibatkan semua. Kan negara kita,” kata dia.

Ia berharap Bangsa Indonesia aman dan terhindar dari ancaman teror. Ryamizard memastikan personel cukup untuk memantau sekitar 500 WNI yang pulang dari Suriah.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyerahkan sepenuhnya pada aparat keamanan terkait kepulangan 500 WNI dari Suriah. Sementara upaya yang akan dilakukan Kemenag adalah menyebarluaskan paham keagamaan yang moderat.

“Moderat dalam arti tidak ekstrim, nggak berlebihan, ajaran agama yang betul-betul mampu mengembangkan agama dan esensi yang sesungguhnya, yaitu ajaran agama yang melindungi, menjaga dan memelihara harkat derajat kemanusiaan, bukan sebaliknya,” kata dia.

Detasemen 88 Baku Tembak Dengan Kelompok Teroris

Personel Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri terlibat baku tembak dengan kelompok yang diduga terlibat jaringan teror di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (15/5). Dalam baku tembak seorang teroris tewas ditembak.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, baku tembak terjadi di Jalan Sikatan, Manukan Kulo, Jawa Timur.

Kepala Bidang Humas Polda Jatim Komisaris Besar Frans Barung Mangera membenarkan adanya baku tembak antara Densus 88 dengan kelompok teror ini.

Usai teror bom di tiga gereja di Surabaya dan Polrestabes, Densus 88 melakukan sejumlah penindakan pada kelompok teror. Tercatat sejumlah orang ditangkap dan ditembak mati karena melawan saat hendak ditangkap.

“Kita sudah memiliki bukti, sudah memiliki yang namanya alat bukti yang sah, dengan yang bersangkutan masuk kelompok membahayakan,” kata  Frans.

Ditambahkan Frans, Densus 88 punya tiga pertimbangan sebelum melakukan tindakan tegas. Pertama, terduga teroris tersebut melakukan perlawanan; kedua, membahayakan nyawa petugas; dan ketiga, aksi terduga teroris ini bisa membahayakan nyawa warga karena lokasi baku tembak berada di sekitar permukiman.

Frans mengatakan baku tembak antara Densus 88 dan terduga teroris ini terjadi sekitar pukul 17.15 WIB. Diduga terduga teroris yang tewas tersebut berusia 39-41 tahun.

Frans menyatakan saat ini lokasi di seputar area baku tembak sudah disterilkan. Ambulans sudah datang ke lokasi untuk melakukan evakuasi.

Frans mengatakan terduga teroris yang terlibat baku tembak dengan petugas adalah kelompok teroris yang sebelumnya melakukan serangan bom beberapa waktu lalu.

“Itu pasti ya, ini petugas di lapangan tak akan ragu lakukan penindakan selain tiga (alasan) itu. Tentu itu kalau memiliki bukti akurat yang dimilikinya dalam rangka jaringan ini. Sehingga tidak ragu untuk melakukan tindakan tegas,” kata Frans.

Frans menjelaskan alasan yang dimaksudnya di antaranya kalau para teroris dan jaringannya melakukan perlawanan dan terduga teroris tersebut membahayakan publik di sekitarnya.
Dia mengatakan terduga pelaku yang tewas adalah seorang pria yang diperkirakan berumur 39-41 tahun.

Sejauh ini polisi menjaga ketat area baku tembak Densus 88 Antiteror dengan terduga teroris di Manukan Kulon, Surabaya.Warga setempat menyebut penyergapan terduga teroris dilakukan di rumah kos. Diduga kos itu dihuni satu keluarga.

Istri Pelaku Bom Anak Buah Menag Lukman

Jenazah pelaku teror bom gereja di Surabaya, Dita Oepriarto rencananya akan dimakamkan di tempat pemakaman Tembok Gede, Jalan Tembok, Gang Kuburan, Tembok Dukuh. Namun, pemakaman Dita ditolak oleh warga sekitar.

Dita merupakan anak kedua dari empat bersaudara pasangan Dodik dan Sumijati. Orang tua Dita tergolong penduduk lama di Kelurahan Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan. “Saya masuk sini tahun 1990, itu keluarga Pak Dita sudah tinggal di sini,” kata Ketua RT 8 RW 1 Kelurahan Tembok Dukuh Abdul Hamid kepada wartawan di rumahnya, kemarin.

Sejak menikah dengan Puji Kuswati, lanjut Ahmad, Dita menyewa rumah di gang yang sama No 23. Baru sekitar tahun 2005, bapak empat anak itu bisa membeli rumah sendiri di Tembok Dukuh V No 32, tepat di depan rumah orang tuanya. Namun, sekitar 5 tahun kemudian, rumah itu dijual.

“Kebetulan Pak Dita terakhir tinggal di sini, kalau ndak tahun 2010, ya tahun 2011. Saat itu sudah punya anak dua, dia pindah ke Rungkut,” ujarnya.

Terkait pemakaman Dita, menurut Hamid, tak semua warga setuju pelaku bom bunuh diri tersebut dimakamkan di Pemakaman Islam Tembok Gede. Pemakaman ini letaknya tak jauh dari rumah orang tua Dita. “Saya hanya dengar bisik-bisik, ada warga yang tak mau Pak Dita dimakamkan di sini,” ungkapnya. ADT

Share

Check Also

Pemilu 2019, PKS Rapatkan Barisan Lakukan Dakwah Politik

thejak.co – Selang dua hari pendaftaran bakal calon anggota legislatif (bacaleg) untuk pemilu 2019, Fraksi ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *