Minggu , 27 Mei 2018

Kinerja Baik, Oposisi Tidak Akan Bisa Kalahkan Jokowi

Presiden Joko Widodo (Jokowi)

thejak.co – Oposisi di Indonesia dinilai bakal kesulitan mengalahkan Joko Widodo (Jokowi), seperti yang terjadi di pemilihan umum Malaysia yang kembali dimenangkan Mahathir Mohamad.

Hal ini disampaikan anggota Komisi I DPR Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) Charles Honoris. Menurutnya, kemenangan oposisi Malaysia yang dipimpin Mahathir adalah dampak evaluasi kinerja pemerintahan Perdana Menteri Najib Razak yang dinilai kurang memuaskan oleh mayoritas masyarakat Negeri Jiran tersebut.

Apalagi, kata Charles, PM Najib yang memerintah sejak 2009 diduga terlibat skandal korupsi ‘1MDB’ (Malaysia Development Berhad-Red).

Ia menambahkan, insentif elektoral cenderung didapat kelompok oposisi jika koalisi partai penguasa tidak becus menjalankan pemerintahan.

“Rumus politik rasional selalu begitu. Semakin baik kinerja pemerintah, oposisi semakin tidak laku. Sebaliknya, semakin pemerintah tidak becus dan korup, oposisi semakin mendapat angin surga untuk menumbangkannya,” ujar Charles.

Charles menuturkan, rumut tersebut juga bisa dibawa ke Indonesia. Namun, kata dia, melihat kepuasaan rakyat yang semakin tinggi terhadap kinerja Presiden Jokowi seperti ditunjukkan sejumlah hasil survei, kejadian di Malaysia sulit terjadi di Indonesia.

“Survei Litbang Kompas dalam rangka 3,5 tahun Jokowi-JK pada awal April lalu menunjukkan 72,2 persen rakyat puas dengan kinerja pemerintahan ini,” ungkapnya.

Bayangkan, lanjut dia, pembangunan infrastruktur masih berjalan saja tingkat kepuasaan rakyat sudah begitu tinggi. “Apalagi kalau rakyat sudah merasakan dampaknya nanti?” ucap Charles.

Karena itu, Charles menegaskan, pernyataan sejumlah politisi oposisi dalam negeri bahwa peristiwa politik di Malaysia akan ‘merembet’ ke Indonesia, jelas sulit terjadi selama kinerja pemerintahan Jokowi berjalan baik. Politik itu tidak bekerja di ruang hampa.

“Masa apa yang terjadi di negara tetangga disebut bisa merembet begitu saja, tanpa melihat faktor-faktor yang terjadi di belakangnya, seperti kinerja pemerintahan, efektivitas oposisi, dan sebagainya,” tutur Charles.

Justru, Charles menyatakan, oposisi terancam tidak laku manakala kinerja pemerintahan Jokowi-JK semakin memuaskan rakyat. “Apalagi jika kritik-kritik yang dilancarkan oposisi tidak substantif dan tidak rasional,” ujar dia.

Salah satu kritik yang tidak rasional, menurut Charles, adalah politisasi isu SARA, seperti yang kerap diangkat UMNO dan PM Najib ketika berkampanye.

“Politisasi isu SARA terbukti tidak memiliki tempat dalam perpolitikan Malaysia dan terbukti tidak efektif mendulang suara, karena masyarakat Malaysia sudah cerdas,” jelasnya.

Charles optimistis politisasi isu SARA juga tidak akan terjadi dan tidak akan berpengaruh dalam Pilkada 2018 dan Pemilu 2019 di Indonesia.

“Karena publik Indonesia semakin cerdas, dan sudah paham efek destruktif politisasi isu SARA yang pernah terjadi,” katanya.

Lebih lanjut Charles menambahkan, PDI Perjuangan bisa memenangkan Pemilu 2014 lalu karena mendapat kepercayaan rakyat setelah pemerintahan sebelumnya berjalan tidak sesuai harapan. Apalagi, lanjut dia, sejumlah petinggi partai penguasa sebelumnya banyak yang terjerat korupsi.

Di samping itu, PDI Perjuangan sebagai oposisi semakin efektif dalam melakukan komunikasi politik kepada rakyat dan selalu menggunakan cara-cara beradab dalam merebut kekuasaan. DED

Share

Check Also

Penyanyi Innes Baladiva Bocorkan Manfaat dari Hipnotis

Belum lama ini adegan hipnotis kerap meramaikan layar kaca televisi Indonesia. Berbagai respon pun muncul ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *