Minggu , 27 Mei 2018

Partai Koalisi Pemerintah Tak Ambil Pusing Partai Idaman Gabung PAN

Partai Idaman saat deklarasi gabung PAN.

thejak.co – Partai Islam Damai Aman (Idaman) resmi ‘bergabung’ dengan Partai Amanat Nasional (PAN). Wakil Ketua Umum DPP Hanura, Sutrisno Iwantono, menegaskan keputusan itu tidak perlu dirisaukan.

“Nggak apa-apa lah, jangan terlalu kita risaukan,” katanya di Jakarta.

Mantan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) ini menuturkan, Partai Idaman tidak lolos pada tahapan verifikasi faktual sebagai peserta Pemilu 2019. Dengan begitu, keputusan Partai Idaman bergabung dengan siapa saja untuk bertarung di Pemilu 2019 tidak perlu diperhitungkan.

“Kemarin sudah verifikasi, nggak lolos. Administrasi faktual, nggak lolos. Yang begitu-begitu nggak perlu terlalu kita risaukan,” tandas dia.

Sedangkan, Jubir DPP PSI Dedek Prayudi menyambut baik keputusan Partai Idaman untuk bergabung dengan PAN. Dia menyebut, bergabungnya Partai Idaman akan mempengaruhi langkah PAN ke depan. “Bergabungnya Idaman dengan PAN memberi pengaruh-pengaruh baik untuk PAN dan bangsa Indonesia,” katanya.

Dedek Prayudi berharap, setelah bergabung dengan Partai Idaman, PAN mulai berani menyuarakan gagasan-gagasan nasionalis. “Berani melantangkan suara nasionalis, melantangkan politik gagasan yang dulu pernah mereka lantangkan,” tuturnya.

Sementara itu, para kader Partai Islam Damai Aman (Idaman) akan maju jadi calon legislatif di 2019 melalui Partai Amanat Nasional (PAN). Dengan demikian mereka akan meninggalkan Kartu Tanda Anggota atau KTA Partai Idaman saat pencalegan tersebut.

“Pada saat yang bersangkutan sudah mendaftar sebagai caleg PAN, syarat utama adalah KTA PAN. Kalau di PAN itu tidak boleh punya dua KTA,” kata Sekretaris Jenderal PAN Eddy Soeparno di Jakarta.

Eddy menegaskan, secara administratif mereka memang akan menjadi kader PAN. Namun, Eddy mengingatkan tidak semua kader Idaman akan maju menjadi caleg nanti. “Bukan berarti terjadi eksodus, karena memang kader Idaman banyak sekali dan yang nyaleg mungkin tidak seberapa,” ujar Eddy.

Menurut Eddy, hal itu memang bagian dari risiko yang bersifat administratif di partainya. Apalagi Partai Idaman memang punya niat memajukan kadernya lewat PAN. “Jadi saya pikir itu merupakan konsekuensi logis dan hukum karena untuk mencaleg harus punya KTA PAN,” ucap Eddy.

Sebelumnya, keputusan koalisi dua partai itu diputuskan saat acara Mukernas II Partai Idaman yang diselenggarakan di sebuah hotel di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (11/5) malam lalu.

Ketua Umum Partai Idaman, Rhoma Irama, mengatakan, keputusan koalisi ini setelah mendengarkan aspirasi kader di seluruh Indonesia lantaran partainya gagal sebagai peserta Pemilu 2019.

“Usai beberapa parpol komunikasi dengan saya, maka akhirnya Partai Amanat Nasional lah yang ternyata lebih tepat, lebih pas, lebih seirama di dalam menentukan kerja sama kita,” ujar Rhoma. DED

Share

Check Also

Penyanyi Innes Baladiva Bocorkan Manfaat dari Hipnotis

Belum lama ini adegan hipnotis kerap meramaikan layar kaca televisi Indonesia. Berbagai respon pun muncul ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *