Rabu , 11 Juli 2018

Lebih Siap, Jokowi Berpeluang Lawan Kotak Kosong di Pilpres

Presiden Joko Widodo (Jokowi)

thejak.co – Petahana Joko Widodo (Jokowi) berpeluang kembali meraih kemenangan saat mencalonkan diri sebagai presiden di Pemilu 2019 mendatang. Jokowi dinilai lebih diuntungkan karena mempersiapkan diri lebih lama daripada pasangan calon lain.

Hal itu diungkapkan dosen dari President University, Muhammad AS Hikam. “Petahana cenderung diuntungkan, karena telah memiliki persiapan lebih lama. Tidak usah kampanye, sudah dikenal oleh para pemilih dan calon pemilih apalagi pendukung,” ujarnya di Jakarta.

Menurut Hikam, kemungkinan Jokowi memenangkan pilpres mendatang hampir mendekati angka 90 persen. Ini melihat hasil sejumlah lembaga survei di mana tingkat elektabilitas Jokowi dengan calon lainnya berbeda mencapai angka 20 persen.

“Kemungkinan Jokowi memenangkan itu nyaris di atas 90 persen. Beda jeda di antara elektabilitas survei itu lebih dari 20 poin. Kalau masih 10-15, kemungkinan mengejar ada. Apalagi lawan ada yang 0 (tingkat elektabilitas-Red),” jelas Hikam.

Jika melihat hasil sejumlah lembaga survei, kata Hikam, calon penantang Jokowi tidak mempunyai keistimewaan. Bahkan, apabila tidak ada calon presiden lain yang diajukan, bukan tidak mungkin suami dari Iriana itu bersama dengan calon wakil presiden pilihannya akan menghadapi kotak kosong.

“Penantang tidak punya keistimewaan, kecuali mempunyai keunggulan lebih yang mampu menggeser. Faktanya tidak ada yang lebih menarik dari Pak Jokowi. Skenario terburuk kotak kosong, tetapi akan sangat sulit kalau calon presiden melawan kotak kosong,” tutur Hikam.

Sementara itu, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsuddin Haris, mengatakan peluang Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mencalonkan diri sebagai calon presiden di Pilpres 2019 hanya sebesar 50 persen.

Menurut dia, mantan Danjen Kopassus itu bukan lagi sebagai penantang utama dari presiden petahana, Joko Widodo.

“Belum cukup jelas siapa yang potensi penantang utama. Penantang utama bukan lagi Prabowo. Prabowo menjadi capres tinggal 50 persen,” ujar Syamsuddin.

Dia menjelaskan, ada sejumlah alasan mengapa Prabowo Subianto belum dapat dipastikan maju sebagai capres di Pemilu 2019 mendatang. Alasan pertama karena dana. Upaya Prabowo menggalang donasi mendukung perjuangan politiknya dan Partai Gerindra merupakan salah satu indikasi.

Selain itu, lanjut Syamsuddin, harta kekayaan dari Hashim Djojohadikusumo, adik Prabowo Subianto dinilai menurun karena terlempar dari daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes.

Ini merupakan dampak dari pencapresan Prabowo Subianto di Pilpres 2014. “Andalan Prabowo itu Hashim. Saya menduga membaca data Forbes tidak begitu menggembirakan. Pada 2014, Hashim di posisi 40 sekarang posisi 90-an. Itu kenapa Prabowo menggalang dana publik. Diduga kuat dana pencapresan lebih dari Rp 1 triliun,” kata dia.

Alasan lainnya karena persaingan di antara elite partai di sekeliling Prabowo. PKS, sebagai salah satu parpol yang disebut akan berkoalisi dengan Gerindra, mengajukan sembilan nama calon wakil presiden.

Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan juga berminat mencalonkan diri sebagai cawapres. Belum lagi, sambung Syamsuddin, penjajakan dari kubu Cikeas, di mana menjajakan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk dipasangkan dengan berbagai nama termasuk Prabowo. “Ini menggambarkan sulitnya membangun konsensus atau kesepakatan politik,” tutur Syamsuddin. DED

Share

Check Also

Gerindra Ogah Usung Anies Jadi Presiden

thejak.co – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon angkat bicara terkait kabar bahwa PKS ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *