Selasa , 10 Juli 2018

Alumni IPB: 2045 Indonesia Tidak Mungkin Jadi Lumbung Pangan

Ratno Soetjiptadie (kiri) dan Luana Leksana saat acara diskusi bertajuk “Produktivitas Padi Versus Importasi Beras, Ada Apa?”, di Jakarta, Senin (9/7/2018).

Thejak.co-Impian Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman, Indonesia di tahun 2045 menjadi lumbung pangan tidak akan pernah terwujud. Jika, sektor pertanian masih dikelola seperti sekarang ini.

Hal ini disampaikan Alumni IPB yang juga menjabat sebagai Senior Expatriate Tech Cooperation ASPAC-FA0, Ratno Soetjiptadie dalam diskusi terbatas yang diselenggarkan oleh Forum Wartawan Pertanian (FORWATAN), dengan tema “Produktivitas Padi Versus Importasi Beras, Ada Apa?”, di Jakarta, Senin (9/7/2018)

Selain Ratno, narasumber lainnya adalah Luana Leksana dari Ketua Kompartemen Tanaman Pangan Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo). Sayangnya, narasumber dari Kementerian Pertanian (Kementan), Menteri Amran berhalangan hadir karena tengah berada di luar kota.

Ratno menyebutkan banyak persoalan yang dihadapi pada sektor pertanian Indonesia, di antaranya tata kelola air yang masih buruk, tingkat pendidikan petani yang rendah, kelola sawah masih dengan cara konvensional, petani bekerja sendiri-sendiri dan lahan yang terbatas.

“Tahun 2045 tidak mungkin (Indonesia) jadi lumbung pangan jika seperti cara yang sekarang. Apalagi, ke depan masih banyak masalah yang harus dipecahkan,” tuturnya.

Dia pun sedih. Menurutnya nilai rapot pertani ‘sekarat’ masuk diangka merah. Artinya, Indonesia belum cukup pangan masih tergantung dengan negara lain. Jika dibandingkan negara lain, skor pertanian Indonesia sangat rendah, yakni Thailand skornya 7, Thailand 5, dan Indonesia 2.

Jadi, solusinya dalam membangun pertanian harus berkelanjutan, tidak bisa hanya lima tahun. “Ganti pemerintahan, ganti kebijakan. Karena yang bisa menyelematkan negara ini adalah sektor pertanian dan perikanan,” ujarnya.

Sementara, Yuana Leksana mengungkapkan, produktivitas jagung meningkat, salah satu kontbusi utama adalah penggunaan teknologi hibrida.
Adapun produktivitas adalah parameter atau refleksi dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemudian berlanjut mendorong keterlibatan sektor swasta dalam industri benih.

“Keterlibatan industri benih berdampak positif pada rangkaian proses yang sistematis mulai dari kebutuhan pasar, penelitian, produksi benih, pemasaran hingga pendampingan konsumen,” paparnya.

Berdasarkan data Kementan, dalam tiga tahun belakangan produksi padi terus meningkat, namun dari sisi produktivitas menurun. Sedangkan produksi jagung naik, dikarenakan luas panen meningkat, sementara tingat produktivitasnya turun.

Produktivitas padi tahun 2015 sebesar 5,34 ton per hektar, tahun 2016 turun menjadi 5,24 ton per hektar dan tahun 2017 hanya mencapai 5,16 ton per hektar. DIN

 

Share

Check Also

Jokowi Ogah Pilih Airlangga Jadi Cawapresnya

thejak.co - Ketua Umum? Partai Golkar Airlangga Hartarto pasrah ‘didepak’ dari calon wakil presiden yang ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hot News!