
thejak.co - Pembangunan elevated alias jalan layang di Tol Jakarta-Cikampek pada saat ini terus menjadi penyebab kemacetan.
Imbas dari kasus ini tidak hanya menguras waktu pengguna jalan. Para pelaku usaha dan warga Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi sampai ke Karawang pun merasakan akibatnya.
Pembangunan memang tidak bisa dipungkiri dan patut didukung. Tetapi dampak dari pembangunan semestinya tidak membuat rakyat susah. Catat, tidak membuat rakyat susah.
Sebab, kajian mendalam perlu dilakukan guna mengurangi dampak dari pembangunan infrastruktur ini.
Tidak usah dibayangkan berapa waktu yang terbuang sebelum dan saat mega pembangunan infrastruktur di jalan tol tersebut. Pastinya para penggendara perlu sering-sering membuka aplikasi Google Map dan Waze agar tidak terjebak dalam kemacetan parah.
M Yusuf warga Tambun, Kabupaten Bekasi mengungkapkan dirinya lebih memilih lewat jalan alternatif saat berangkat kerja dibanding mesti menggunakan jalan Tol Jakarta-Cikampek.
â€Masalahnya kalau kita pakai jalan tol itu kita membayar untuk menikmati kemacetan. Nah, lucukan, bukannya pakai tol dulu untuk jalan biar lancar nggak ada macet, sekarang bayar buat merasakan macet,†kata pria yang berkerja dikawasan Gatot Subroto tersebut.
Dia mengatakan kemacetan pasa saat ini semakin parah karena ada pembangunan yang tidak memikirkan aspek pengguna jalan.
â€Kita bayar tapi macet, yang edan lagi yakni, pengguna tol ini dihadapkan kepada kecelakaan, coba itu mereka pekerja apa sudah sesuai dengan K3? Pasti kaga, kajian Health, Safety and Environmental pasti dibuang jauh-jauh nggak bakal dipakai oleh mereka, liat aja jarak antara pengguna jalan dan kendaraan dan alat berat serta material deket banget, pengguna jalan dibiarkan tidak nyaman. Apa betul itu!†tegasnya.
Jalur Tol Jakarta-Cikampek memang tak hanya padat. Di atas kertas, salah satu jalur tol tertua di Indonesia ini memang sudah memprihatinkan.
Pada 2015 saja, tol ini dilewati kurang lebih 214 juta kendaraan dari dan menuju Jakarta. Artinya, rata-rata ada 590.000 kendaraan per hari. Volume ini melebihi kapasitas.
“Karena V/C Ratio (perbandingan kapasitas jalan dan volume kendaraan) di jalan Tol Jakarta-Cikampek sekarang ini mencapai 1,3.
Itu sudah overload, karena rasio maksimal adalah 0,75,†kata Iwan Dewantoro, pimpinan proyek PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek.
Kepadatan kendaraan memang tak terjadi pada seluruh jalan tol sepanjang 73 km ini. Ruas yang paling menjadi momok para pengendara antara lain simpang Cikunir. Di area ini ada pertemuan arus kendaraan dari Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR), Tanjung Priok, dan Tol Dalam Kota.
Apa yang lazim disebut “penyempitan leher botol” pun tak terhindarkan. Pintu Gerbang Tol Cikarang Utama sudah jadi langganan penyumbat arus kendaraan dari dan menuju Jakarta.
Kemacetan kini diperparah lantaran pihak PT Jasa Marga cabang Jakarta-Cikampek kerap melakukan uji coba mengatasi kemacetan akibat dampak pembangunan yang berada di sana.
Seperti pengurangan ruas jalur Tol Jakarta-Cikampek dari empat lajur menjadi 2,5 lajur, baik yang ke arah Cikampek maupun ke Jakarta. Pengurangan lajur itu akan mulai diberlakukan Selasa pukul 21.00 WIB hingga Rabu (18/7) pukul 05.00 WIB.
Sebagian lajur yang mengalami pengurangan yakni di ruas Tol Jakarta-Cikampek akan dilakukan dari sekitar wilayah Bekasi Barat, Kota Bekasi, hingga Tambun, baik dari arah Jakarta menuju Cikampek dan sebaliknya.
“Simulasi dimaksudkan untuk memastikan apakah metode launcher pada pemasangan ‘erection steel box girder’ tersebut dapat digunakan dengan mempertimbangkan lalu lintas yang tetap dapat mengalir.
Sehingga apabila ada gangguan terhadap arus lalu lintas masih dapat ditoleransi atau tidak,†ungkap Raddy, Selasa (17/7).
Kondisi seperti ini pastinya merugikan warga Kota Bekasi, sebab jalan alteri akan dipenuhi kendaraan yang biasa melintasi jalur tol Jakarta – Cikampek.
“Kita kan memang tidak ada lagi jalan alternatif yang lain ya, jalan arteri yang ada hanya itu-itu saja yang difungsikan.
Paling kita membantu dengan menempatkan personel-personel kita, baik Dishub maupun Satlantas Polres, untuk mengurai terjadinya kepadatan di titik-titik yang mungkin terjadi macet,” jelas Kadishub Kota Bekasi Yayan Yuliana. JAK
TheJAK